Kamis, 12 Februari 2026

Semoga Menjawab

pada awalnya mencoba tidak terjebak dengan logika, dimulai menyusun rencana, mengukur semua kemungkinan, membuat langkah demi langkah, menyiapkan prasangka untuk pergi, namun aku lupa dengan emosi, karena pada saat itu emosi bukan milikku lagi, belajar bahwa manusia itu selalu tak bijak menyelesaikan waktu, mereka tak mengerti manipulatif, bahkan tidak tahu sedang memanipulasi dirinya sendiri, pada akhirnya tak ada namanya kemenangan dalam pertarungan hati, mereka selalu berkisah tentang tujuan berdiri di atas monopoli kehormatan, atas dasar harga pencapaian popularitas prestasi, tamak atas pribadi sendiri dengan menginjak kesadaran kodrat humanis, sediakan waktu untuk berkorban untuk sesuatu yang tak memperdulikanmu, sediakan ruang untuk sebuah kenangan yang tak pernah pulang untukmu, maka di saat itu, kamu menemukan defenisi ikhlas, bukan perihal berjuang untuk tujuan, bukan perihal bertarung demi mimpi, tapi belajar dari arti kata saling dalam defenisi kita yang telah direncanakan dan dipertemukan, karena sulit menyangkal suara validasi dan ekspetasi atau desakan masalah yang timbul dari kewajaran interaksi, berkali mereka mencoba membunuh keyakinan, kenyataan dan emosi, ketika menemukan kata pasrah di situlah mereka terjebak oleh mimpi orang lain, kebenarannya adalah mereka tidak tahu sedang diperalat oleh rencana yang sama, yang dibuat oleh orang yang hidupnya diperalat juga, selamat datang di lingkaran warisan milenial orde baru, maka berjuanglah pada kebutuhan humanis, bukan bingkai kebanggaan dan kehormatan, rencanakan ketenanganmu sebelum direbut paksa oleh amarah mencaci ketidaknyamanan takdirmu