Senin, 04 Mei 2026
Sudahlah ini tak biasa
Kebisingan akan kemajemukan kendaraan mengulang suara bisumu, menegakan aroma parfum abadi terselip pada lampu berbinar, pada jalanan beraksara bahasa pelarian di sekian malam, berputar di lorong-lorong yang mengobati sunyi hatimu, hingga kau hinggap di penawaran kisah yang mungkin tak ingin kau rajut, tak ada cara menghapus seketika ataupun mengubur mata yang terkontaminasi beribu alasan untuk hidup di tulisan pada buku harianmu, menyertai prosa menyerupai doa sertai langkah yang seakan menua tapi tak bisa binasa, segala hal yang telah kita lukis bukan irisan tinta yang terlihat pada rak-rak market tapi tinta darah merah yang mengalir di nadi-nadi, berdenyut bersama hembusan nafas, menahanku duduk berlama-lama pada pandangan yang sama, meski tak nyata lagi impian yang sudah kalut, tetap saja tubuhku terpaku pada dorongan untuk tetap bernyawa atas cerita semu, mungkin kegilaan ini tak bisa di ukur ataupun tak bisa kita terka, biarlah diceritakan oleh awan dan pohon rindang yang merekam pertaruhan kita, yang ku ingin dan yang ku kunci pada logika selalu tak sama, membiasakan diri pada lamunan atau berperangai normal dengan melodi lagu populer, tak pernah menyudahi beribu pertanyaan membabi buta mengahantam kesadaran, ketika mata menuntut untuk terbuka di pagi hari, warna tembok tetap meletakan prioritas memperjuangkan riwayat bayangan hitam yang tesemat diantara beribu tawaran yang akan menghantam pada hari itu juga, sudah tak peduli pada ketakutan, hanya berorientasi pada kekuatan moral yang belum terselesaikan yang belum kita sempat tamatkan
Selasa, 21 April 2026
Hari Pria
mengekstrasi pria vs wanita, mengapa harus sepasang apakah harus dipasangkan, bagaimana dengan yang memutuskan sendiri, mari kita kembali melihat lebih luas cakrawala di langit, melihat langit bukan pada keangkuhan pada pandangan yang meninggi, tapi melihat langit mengapa dia harus di atas, terbata-bata mulut menjelaskan kesombongan dan kesetaraan, dimana manusia selalu meletakan atribut pada pencapaian, bahkan menang dan kalah adalah atribut nilai absolut, yang menindas itu kemenangan atau yang tertindas itu kekalahan, bahkan sulit ketika ego menjadi bagian diri ini, mari kita mulai dari mengekstrasi pria, dia menjadi awal dalam cerita, bukan karena dia pertama kemudian menang, sore ini ku dengar sebuah pengorbanan, dari sebuah fakta untuk keromantisan, pria tak pernah memikirkan dirinya sendiri, dan memang seharusnya pria ideal adalah tak memikirkan egonya, tanpa menapikan beberapa pendapat berbicara hipotalamus pria yang dominan, saya lebih memilih ladang berjuang pria ialah apa yg dilindunginya, faktanya cinta idealnya pria adalah rela memberikan segalanya sebagai bukti pengorbanan, logikanya ketika pertama kali berteriak kami mulai terikat dengan wanita, pada ibu, isteri maupun anak perempuan, tapi menanti hari penghargaan untuk pria tak tercipta jika itu sudah melekat pada misi hidupnya, aku lebih memihak pada rasa sakit ini daripada posisi di mana pria lebih senang mencari kesenangan yang lain, kemudian berbicara tentang bagaimana dengan pengkhianatan, dalam pikirku, aku cukup berjuang untuk melindungi dan berkorban sepantasnya, tapi urusan mengeraskan bukanlah tipeku, maka munculah bagaiamana jika tidak setara atau tidak sesuai berjalan dengan rencana, kembali lagi memperbaiki diri, tak perlu menyalahkan yang lain, bagiku berada pada jalur yang ku jaga sepatutnya aku tak perlu takut, mungkin aku kurang mengeraskan suara untuk berdoa atau mengeraskan tulus dan syukur, demikian menjadi pria sebuah keutamaan memperjuangkan apa yang dilindunginya dengan wajar selepas itu aku tak inginkan apapun, hidupku adalah berkorban
Selasa, 14 April 2026
Sial
sial lagi terpuruk dalam keraguan, mendapati hati yang sementara mati, melanjutkan imajinasi atau menjajaki nama baru kembali, masih ku rayakan luka dengan ambisi, membenci tiap aura sel kenangan yang terbang di sekitarku, memupuk cerita luka di goresan buku, beralasan di dengar lebih keras oleh rindu yang tak punya tuan, sial berhenti di kaca kamarku, terkurung frame memori senyuman, wajahmu hadir dalam kepulan asap atau lagu yang kita dengar bersama dulu, hidupku terobses ketulusan cintamu, kembali diriku mengkritisi sikapku sendiri, tiap jejak dan tiap kesombongan intelektual yang rapuh, melewatkan waktu yang ku tidak dihargai selayaknya, bahkan tuhan terus menghadirkan asa berkali, tetap membuatku menganggap semua tetap sampah, sial aku tersesat lagi, terpuruk dalam jiwa penolakan, menyalahkan diri sendiri sedari awal, mencoba lari untuk mengobati tapi tak pernah tersembuhkan, asumsi materi dan sendiri lebih menenangkan, padahal hanya tipu daya otak berusaha bertahan semu, tak ada salahnya mengemis hati kita, tak ada salahnya merespon berlebihan perayaan perasaan, toh kita juga tak pernah meminta untuk jatuh cinta pada makhluk yang terjadi begitu acak, ketahuilah cerita ini dipertemukan bukan kita yang berkeinginan, bahkan kita tak bisa mengendalikan ingin kita, kita hanya di suruh membaca dan belajar menginterpertasikan dengan pikir yang matang, bahkan sudah ada jawaban yang tersedia pada tanda dan tulisan, aku mengagumimu bukan karna aku mau itu, tapi aku diberikan rasa untuk terus kagum padamu, cuman aku saja tak bisa membaca tanda-tanda jadi baik, maka aku juga tak ingin pergi kemana-mana, hanya menunggu perintah selanjutnya dari langit, tapi yang sulit dalam cinta adalah merindukanmu tiap detik, rindu ini tak menyiksa tapi rindu menuntunku terus hidup, bahkan jika rindu hanya tersusun pada barisan file di amigdala yang kemudian tertimbun, bukan juga masalah dan itu normal, saya tahu lebih sakit membangun sesuatu dari pelarian takan pernah menyembuhkan, pada akhirnya biarkan peluru-peluru panas ingatan menembakiku, sampai nanti kita bertemu pada senja yang kita tunggu dulu
Kamis, 02 April 2026
Ruang kreasi
tuhan selalu menyelamatkanku meski ku terjebak dalam lubang yang sangat gelap dan pekat, bertahun-tahun aku masih hidup dan bernapas dengan degupan jantung yang memacu kencang beradu dengan racun yang ku masukan dalam paru-paru menahun, rasanya ingin berhenti bergerak, membungkam semua anggota tubuh tanpa pengecualian saat semua mulai mensenja, kematian mental yang berkepanjangan membawa pengecut yang semakin membesar, arti dari ketiadaan ambisi dalam melakukan segala hal, seperti hidup dalam ketiadaan makna hidup, acap kali badan terenyuh dalam penyesalan berkali ia bangkit mencari makna mandiri, seakan otak ini bukan milik perubahan zaman, malah semakin mempertanyakan teknologi daripada ikut merayakan kemajuan modernisme, aku tak mempertanyakan cobaan yang mendera, tapi ada tangan tak kasat mata yang terus menghangati tiap kesalahan dan dosa yang terjadi, bukan hanya sekali aku memojokkan diri sendiri, bahkan zona nyaman bukanlah ruang kesenanganku dari dulu, andai aku menghargai waktu yang terbuang mungkin cerita akan berbeda, atau mungkin mewarisi ambisi yang kecil agar sedikit ego untuk pencapaian serta validasi, tapi sesungguhnya sekali lagi peranku selalu punya jalan sendiri, terakhir kali bermain dengan api' setelah terbakar lagi dia menyelamatkaknku kesekian kalinya, berusaha memadamkannya dengan caranya, cahaya yang tadinya ku anggap memang telah redup, dia mengusahakan nafas yang lebih bersih menggantikan tujuan yang baru, aku rela mengusik ketenangan dan istrahatku terganggu dengan projek ini, tanpa harap berspekulasi indah pada waktunya, tapi menikmati proses dari usaha yang sekecil mungkin, meskipun aku berdaya, entah melengkapi berbagai kemampuan ku rasuki dalam tubuh, tanpa makna yang jelas ku pelajari semua hal itu, ingatanku tentang kegagalan perlahan menjadi puzle teka teki yang mesti ku pecahkan sendiri dengan tangan kaca ku, aku selalu bertanya kenapa aku tak diistirahatkan, mengapa otak selalu berpikir dan berputar tanpa puas atau hidup nyaman dengan status dan ketenangan materi, malah mengkritisi tiap jejak sosial orang lain satu persatu, bukan maksud hati ingin mengguncang, sadarku tentang keterbatasan, tapi bagaimana membiarkan diri terus berkaya dengan jalan yang tua, setidaknya halte pemberhentian adalah kematian, selagi masih panjang perjalanan akan tetap ku buat sesuatu untuk menyingkap ruang pencapaian yang semu, melalui ini ku ikrarkan diri menulis dinding grafiti di kamar, bagi orang yang memandang akan menemukan arti yang sepadan apapun resikonya nanti, memulai saja biar nanti tuhan tetap putuskan kelayakannya,
Senin, 30 Maret 2026
Janji dan Mimpi
janji atau impian, malam itu membungkus janji dan mimpi, barulah rencana terpatri dalam hati, bukan janjinya tak terpenuhi, tapi usaha mencapainya belumlah baik, atau dia yang takut berjanji, taukah mimpi dapat bermula dengan kata janji, aku berjanji membahagiakanmu karena aku bermimpi dapat bahagia denganmu, Alkisah nelayan yang berjanji menghidupi rumah dengan mimpi besok ada seember ikan yang dibawa pulang, tapi janjinya bukan hanya kata, tapi perjalanan liar dalam badai ombak ketidak pastian, sebenarnya dia tak berharap untuk rumah itu menanggapi janjinya, hanya sebuah perilaku diam dan senyum yang tak bergeser prasangka, sambil berdoa mengaharap mimpi ini di bawa pulang, sederhananya sejak kapan rumah itu bisa bermutasi, atau rumah itu menganggap dengan berspekulasi dapat menambal keraguan nelayan, tentu saja tidak, karena nelayan sudah kenal rumah itu, bukan karena ingin merenovasi keraguan, tapi sedari awal rumah itu sudah ideal desainnya, hal yang ditakuti nelayan ketika pulang tanpa rumah, mimpinya ikut musnah karena tak memiliki wadah, begitulah janji tentang ikan ikut membusuk dimakan bakteri-bakteri udara, tapi mengapa aku akan terus berjanji, karena ku tahu, tak ada orang yang bermimpi untukmu, yang kau tahu kau acap kali bermimpi sendiri, terlihat di mata coklatmu yang perlahan mencekung, maka janjiku adalah impianmu' dan tetaplah di tempatmu bermula, dengan mimpi yang sama, saat semula telah kita bicarakan di bibir-bibir yang pernah beradu, biarkan karang-karang tajam itu menusukku lebih dulu, biarkan dingin air membasahiku dahulu, pastikan saja rumah kita terwadah mimpi kita kelak.
Jumat, 27 Maret 2026
Persembahan
Berubah, tak terpikirkan bahwa ada yg salah tentang perasaan ini, masih sama seperti tangis yang tak punya penyebab itu, ku akui terlalu banyak perbedaan subuh yang dulu dengan subuh hari ini, betapa khidmatnya ketulusan doa yang di dorong ketidak berdayaan hamba bersimpuh di atas keperkasaan maha kebenaran dan rahmatnya, tak ada yang lebih besar dari dia, bahkan jika konsekuensi melepas duniamu menjadikan hadiah menyiapkan diri menyambut jalan pulang sesungguhnya, takan ku minta tuk merubah skema ini sedari awal, bukannya aku menolak kehadiran dia saat menemani rapuhnya jiwa yang berulang-ulang membuat tanganku gemetar, ataupun berusaha menghindari dari masa lalu kerinduan akan dirimu, semua lebih dari pada sebuah rasa penghormatan atas hadirnya seorang perantara yang menghadirkan tanya mengapa harus dirimu? aku tak perlu tujuan untuk berbuat, aku juga tak butuh harapan untuk menjadi lebih baik, hanya saja akan lebih indah di imajinasi ini ada dirimu di sampingku, sungguh aku tampak sadar untuk belajar, terlihat lebih aktif mencari tahu sudut kebenaran dari pedoman suci yang di nubuatkan pada nabi-nabi dan cendikiawan muslim lainnya, kau bagaikan seorang orang tua yang mengantarkanku ke gerbang sekolah dan menyerahkannya pada otak berpikir membentuk naluri bertahan hidup pada tipe ideal yang lebih sakral dan suci, lalu tak ada alasan membencimu, malah ku sadar untuk lebih mencintaimu dalam hening, ku sering mengusahakan itu dalam doa' biar sang maha pemilik takdir yang meridhoi mana yang akan aku ajak bersujud di pertigaan malam, meskipun nanti ku dapati hal terberat tanpa siapapun di skema yang lain bukan menjadi alasanku mengeluh, biarkan ku selesaikan kesalahanku di masa lalu berangsur-angsur, mencoba mencuci noda-noda yang ku buat dengan tanganku dan sadarku, gonggongan asing bukanlah gangguan lagi, ketakutanku hanya kebahagianmu nanti, yang telah ku janjikan sejak awal, pada pelajaran selanjutnya cerita akan tertulis, karya akan menemani lorong gelap, semoga kita akan baik-baik saja' terlindungi dari fitnah yang mendera pada layar-layar yang katanya pintar
Minggu, 22 Maret 2026
Bermimpilah
selamat malam untuk manusia yang sedang bermimpi, yang menggantung mimpi di dinding kamar, yang merangkai kata-kata doa semesta sebelum tidur, yang menitipkan harapan ingin pada awan-awan putih di angkasa, yang menyanyikan kerinduan di antara bintang-bintang, aku hanya ingin mencubit sedikit kue yang kalian peluk sebelum terimajinasi dalam bunga tidur, janganlah pernah lelah ya, tetap rintis bayang itu, meracuni sekililingmu meliputi senyuman indah yang kau persembahkan dalam api asmara dongeng romansa, percayalah tak ada mimpi yang tak bisa terwujud, kecuali kau hanya pengecut yang melarikan dari rasa sakit, rasa takut tak pernah ada jika jujur itu tulus dalam makna, setiap jejak pesakitan itu adalah ciptaan dirimu sendiri yang kau tolak atas kesadaran keangkuhan makna bahagia kiasan, berusaha atas kenyamanan dunia angka yang dikalkulasi logika, membunuh mimpimu itu perilaku bunuh diri, temukan cara-cara menemukan mimpi itu bukanlah pengorbanan, mereka mengadaptasi misi, visi dan harga empati yang kian meninggi, memilih untuk menyandarkan juang pada kepasrahan pikiran tak bisa mencairkan asa yang kau genggam erat pada pahatan cita-cita, tahukah engkau tak ada yang pernah mengatur irama seindah suara kalbumu, atau hatimu telah bisu dan tuli, jangan-jangan kau tak bisa bedakan isi pikiran dan isi makna kedalaman samudera amigdalamu, jika kau mau dengarkan sejenak, alogaritma alam selalu menaungi ruh di setiap eposide, tanpa memerlukan restumu yang belum sanggup mencerna makna, pilihan telah tersedia di meja makan yang mewah, yang akan engkau santap sebagai nutrisi jiwa mempertahankan hidup, layak makanan yang terlihat enak menyimpan racun, sedangkan makanan yang tersingkirkan selera perlahan terlupakan dalam sunyi, caraku menghayati rasa sakit untuk memahami bahwa inilah adalah karya titipan tangis bahagia merangsang empati yang tak ada batasnya, menghasilkan kasi sayang tanpa pamrih di keikhlasan tertinggi, aku bukan mencontoh tapi jangan kau lupa mendefiniskan mimpi hanya bentuk menyenangkan, karena ketika merasakan ketulusan di dalam jiwa, bahkan api pun terasa sejuk di kulitmu
Rabu, 11 Maret 2026
Menyuarakan Juang
akankah berserah menatap usang, dalam keteduhan air pasang, mencoba mengais sisa jasad antrhopoda, menghimpun tenaga di titik surut yang kembali mengering, mencoba tersadar dalam bisu, menyimpan logaritma bahasa kalbu, beradu antara percaya dan ragu, diantara keluh dalam tiap doa semesta, mengahalau nestapa yang terus mendera, dengan kesekian gelap ruang kamar, berdiri di peraduan ambisi, mempetakan perjalanan di tiap kemungkinan pikiran, mempertaruhkan sebuah nama atas cita, dalam pijakan kepasrahan takdir, dibalut kerumitan keyakinan pendalaman peran, mempelajari pesan dalam tanda-tanda kesempatan, belumlah kalah di setiap nafas tersisa, belumlah usai di mata terbuka dari pagi ke pagi, kami adalah sekelompok pemain yang menjalankan skema perintah, dipaksa berliterasi agar langkah tak mudah tergoyah, mendayakan kreativitas menerjemahkan akasara, mana mungkin mimpi besar lahir dari kepayahan yang kecil, sepatutnya rasakan dan rayakan keterasingan lebih baik daripada menikmati kesementaraan arti, tetaplah menyederhanakan ingin untuk menunjujung kemewahan angkasa, tetap memenuhi isi logika di satu kebenaran dan keberanian petarung, tanpa rasa takut dan cemas pada gambaran yang transparan, dalam menghinakan diri di ketidakberdayaan yang tidak jelas dinamikanya, tetaplah berspekulasi mengusahakan eksistensi di bingkai kebebasan memanfaatkan yang telah di titipkan sampai usai tugas benar-benar terhenti oleh waktu
Sabtu, 07 Maret 2026
Tentang Rasa Ini
aku mencintaimu meskipun tak logis, aku mencintaimu meskipun tak ada yang mengakuinya, aku mencintaimu meskipun tak ada yang percaya, aku mencintaimu bukan sebab tapi aku telah menyerah pada hatimu,
aku mencintaimu tanpa menjelaskan bagaimana, aku mencintaimu tanpa ada ukurannya, aku mencintaimu tanpa sadarku, aku mencintaimu tanpa kriteria tertentu, aku mencintaimu dalam deras hujatan
Katanya hanya memanfaatkan, katanya hanya tipu daya, katanya hanya guna-guna, katanya hanya merekayasa, katanya hanya memanipulasi
malah sebaliknya, tiap dicoba bernalar, tiap dicoba dikalkulasi, tiap dicoba disimulasi, tiap dicoba didefenisi, tak ada hubungannya sama sekali,
kau mulai berdansa di pikiranku, kau mulai bernyanyi di ruang amigdala, kau mulai mengahantui di alam mimpi, kau menyatu di satu tuju
sadarku mengdramakan pesimitis, menepis kebulatan ragu, memerangi ketidakkemungkinan, meredakan segala ketidakseimbangan kita
padahal kau mengerti apa yg terjadi, padahal kau sadar apa yg sedang terkondisikan, padahal kau tau jalan keluarnya nanti, padahal kau tau apa yg tersembunyi
jangan hidup hanya dikendalikan ketakutan, sehingga kau bersenandung dengan perasaan yang digantungkan dengan harapan, atau memaksakan diri di mimpi orang lain yang tak pernah menyertakan hidupmu dalam rencananya
karena kau sedang bermain-main untuk dirimu sendiri untuk memperpanjang pelarian tanpa tepi
Senin, 02 Maret 2026
Mengatraksikan Keadaan
Tak ada yang ku tempat tertuju adalah persinggahan langit, tak ada tempat terindah selain laut, ku dengar mereka pernah bersatu lalu terpisah, ku lihat itu dari atas puncak gunung, di mana mereka sama oleh jejak warna, saling mengasingkan antara rindu tanpa pertemuan, lucunya mereka menyuarakan kasat rasa oleh air, lahirlah lukisan awan mencipta bahasa berpeluh, yang pada akhirnya saling bertukar cerita lewat hujan,
lalu ku upayakan berseloroh dalam doa, menetapkan arah capaian ide, tanpa memerlukan sebab, tanpa memakai ambisi ego, menyandarkan takdir di skema pertarungan, aku tak ingin melangkahi jejak ilahi, slama ini mempertaruhkan insting yang di belenggu bisikan angin berhembus,
kemarin menyandarkan pasrah, membuat pola ikhlas di dimensi muak, seolah-olah memperalat diri sendiri sebagai pecundang, mencoba tersenyum pada rekayasa penyangkalan, menuntun langkah ragu-ragu, pada kiasan sajak pujangga menghidupi lilin di hati yang asing
ku mendaramakan kosombongan diantara paham, seakan dapat menembak kalam takdir, mendesain tiap kerangka frame aksi, seolah-olah mendefenisikan sutradara di atas segala
Padahal pojok kamar ini masih berhantu, menjerit kesakitan saat peluh, tertawa dengan coretan pena yang beradu realita dan abstraksi, beratraksi pada seni membunuh karakter diri sendiri
Sabtu, 14 Februari 2026
Tetaplah Bestari
bagaiamana cara menjelaskan cinta itu unik, tidak dapat di serupakan atau menyerupai sesuatu, sesuatu yang tak pernah berwujud namun diam-diam dia kesurupan, mengobrolkan semalam suntuk pun tak akan pernah selesai, kadang manusia suka bersepakat dalam hubungan intim, tapi sesungguhnya itu hanya pelarian dan pengalihan validasi, keterikatan dalam cinta tak butuh aturan atau tata cara dalam melakukannya, dia dihadirkan dalam raga masing-masing untuk menjemput petunjuk rumah seperti apa yang ingin dihuninya nanti, apakah mereka menyelidiki lebih dalam cinta ini berlabuh, selama ini kita beralasan pada motivasi, padahal dia juga tak butuh dukungan, lalu berkata nanti juga akan pergi hilang berganti, aku hanya mencoba hilang ingatan saja, di dalam sains, cinta dijelaskan dalam bentuk kinerja otak yang di manipulasi merangsang syaraf-syaraf berpikir menjelaskan kodrati humanis, sedangkan dalam social bermunculan hubungan-hubungan intens yang menimbulkan ketertarikan, perhatikan hubunganmu yang terencanakan dan hubungan tanpa rencana, mempunyai selera humor yang sama adalah hipotesa sementara, jujur aku tak tahu cara untuk melepaskan ketersesatan pikiran, setiap bertarung dengan waktu, suasana itu menjebakku kembali untuk di jalur yang sama, hey, dengarlah ini bukan sekedar mencipta rumah, ini bukan sekedar merencanakan perjalanan pulang, tapi orang yg akan menemanimu bukan hanya di bumi tapi sampai di akherat kelak, di kesempatan kesekian kali doanya tetap sama, beranjak dari semua ketidakkemungkinan
Kamis, 12 Februari 2026
Semoga Menjawab
pada awalnya mencoba tidak terjebak dengan logika, dimulai menyusun rencana, mengukur semua kemungkinan, membuat langkah demi langkah, menyiapkan prasangka untuk pergi, namun aku lupa dengan emosi, karena pada saat itu emosi bukan milikku lagi, belajar bahwa manusia itu selalu tak bijak menyelesaikan waktu, mereka tak mengerti manipulatif, bahkan tidak tahu sedang memanipulasi dirinya sendiri, pada akhirnya tak ada namanya kemenangan dalam pertarungan hati, mereka selalu berkisah tentang tujuan berdiri di atas monopoli kehormatan, atas dasar harga pencapaian popularitas prestasi, tamak atas pribadi sendiri dengan menginjak kesadaran kodrat humanis, sediakan waktu untuk berkorban untuk sesuatu yang tak memperdulikanmu, sediakan ruang untuk sebuah kenangan yang tak pernah pulang untukmu, maka di saat itu, kamu menemukan defenisi ikhlas, bukan perihal berjuang untuk tujuan, bukan perihal bertarung demi mimpi, tapi belajar dari arti kata saling dalam defenisi kita yang telah direncanakan dan dipertemukan, karena sulit menyangkal suara validasi dan ekspetasi atau desakan masalah yang timbul dari kewajaran interaksi, berkali mereka mencoba membunuh keyakinan, kenyataan dan emosi, ketika menemukan kata pasrah di situlah mereka terjebak oleh mimpi orang lain, kebenarannya adalah mereka tidak tahu sedang diperalat oleh rencana yang sama, yang dibuat oleh orang yang hidupnya diperalat juga, selamat datang di lingkaran warisan milenial orde baru, maka berjuanglah pada kebutuhan humanis, bukan bingkai kebanggaan dan kehormatan, rencanakan ketenanganmu sebelum direbut paksa oleh amarah mencaci ketidaknyamanan takdirmu
Rabu, 28 Januari 2026
dan kemudian
usang rusuk kiri retak, wujudnya luntur tak kasat mata, jika telah diketahui tapi tetap terjun, apakah harus berkata luka atau jebakan, takdir tak ada yang tahu, antara bertemu atau dipertemukan, gambaran keinginan yang selalu di tutup ragu, seperti tulisan angkasa melukis warna langit, apakah patut lukisan itu diperbenarkan atau disalahkan, jika yang ada sudah memang enak pandang, hanya saja semua berbeda kepala, kemudian apa bedanya rasa dan logika, jika benar atau jika nyaman, dalam mempertanyakan presepsi atau mempertanyakan hal yang sudah terjawab, lalu kemudian mereka berusaha menjawab dengan kembali berbohong, meretak dalam tipu daya logika ambigu, hanya puisi dan lagu menyampaikan teriakan rasa yang menjadi hiasan harapan, kembali aku semakin tak mengerti ketika mereka memberi alasan atas standar dan syarat, kembali mereka membual atas dasar rasa ragu yang sesungguhnya mereka tak pernah berani bahagia, ku pertaruhkan semua kali ini, untuk sekali lagi mempercayai tulisan sajak masa lalu, mengkombinasikan sederahananya bahagia masa kecil dalam wujud tubuh yang dewasa, perasaan akan ku tahan dalam sederhananya, sedangkan pendewasaan ku letakan dalam topeng materi sebagai tiket kamuflase, ku berbicara pada burung di sore ini agar merahasiakan semuanya, mungkin nanti ada yang mengerti ketenangan ini, di mana telah punah dengan desakan ekonomi mengontrol waktu mereka, ataupun pikiran feodal titipan penjajah mengeruk isi kenangan yang terus diwariskan, tak ada pilihan selain bersembunyi dalam semak keterasingan untuk menonton tayangan peran-peran kerakusan, dan di akhir cerita nanti berharap ada yang waras menyelamtkan diri dari permainan busuk akhir zaman
Sabtu, 17 Januari 2026
Hope or Lost
Terlepas dari semua presepsi, terlepas dari semua suara skeptis, atau sebuah keputusan yang disandarkan pada jawaban waktu, masih teranggap kebodohan yang terencana murni dari eksperimen bermuara keberdayaan tak berperasaan, akibat dari kesesatan pikiran mendefinisikan ketidakmampuan dan merasa cukup memahami orang lain, kereta melaju cepat hanya memberi kesan cepat sampai, padahal di balik jendela-jendela paradoks berteriak menyuruh perlambatkan adrenaline untuk sedikit melambat agar dapat dipahami dan disempurnakan, membaca kisahmu pada tulisan-tulisan yang berhasil tercuri menambah traumatik pada delusi, kesekian kali batin berusaha mengkoneksikan kembali antara rela atau mengaharap notifikasi kejutan darimu, berhari-hari selepas tatapan mata yang tersorot di jendela kaca masih menyediakan ruang tanya dan cerita, masih ingin mengobrol bersamamu sekali lagi, masih ingin menyelamai dalamnya lautan yang tersembunyi karang-karang cantik, dimana ikan-ikan cantik enggan mempertontonkan keindahan warnanya, lalu semua berhenti di pertanyaan mengapa harus aku dan mengapa harus kamu, sempat terlintas di hari-hari canggung diantara kita, acap kali menatap cakrawala terhijab senyuman malam itu, kamu curang menertawakan keluhku, sedangkan aku berpikir keras bagaiamana mengeluarkanmu dari nestapa, idealnya ceritakan diam yang sengaja dibungkam, tangisanmu terlalu keras menggetarkan hati yang sudah mati rasa bertahun, jika kau masih membaca atau mengenang, cobalah untuk berani melawan ketakutanmu, di ujung jembatan senja masih ku titipkan hangatnya pelukan rumah
Senin, 12 Januari 2026
Terlalu Ambigu
rada pelan merangkai kerinduan atas kasih, bercumbu dengan lamunan khayalan ambigu, mendoakan kisah lain di atas lembar tulisan mimpi semalam, sudah selesai dengan membenci luka, bersenandung pada harapan orang lain untuk tetap mencari dan memotivasi, meskipun jiwa terus tercerai berai waktu dan amigdala, bersandar pada bahagia dan senyuman wajah-wajah perintis, berkata larilah seliar-liarnya karena janji itu ada dan nyata, meskipun kita akan berdarah, percayalah orang yang bersama mendarah itu dikirim untuk merayakan luka di ujung peluhmu, rada pelan hembusan angin membisikan kesejukan, memenuhi ekspetasi tanpa terburu-buru, pelan proses itu memberikan jawaban seakan-seakan memaksa kembali pulang, apa yang tidak mungkin dari metafora puisi, bukankah suara itu keluar dari teriakan jiwa kala sepi, apa bedanya berbicara dalam diam dan berbicara dgn realita, taukah semua tetap tersampaikan, atas gelisah dan insomnia berlarut-larut, percuma saja merahasiakan doa jika tetap di dengar batin, terlalu mendarama diri ini dalam ketakutan yang sia-sia, mendorong diri dalam kesadaran ego semakin gelap, lalu berkata inilah Aku, Aku yg sedang berpura-pura atau Aku yg masih pengecut, siapa dirimu sebenarnya, apa yg kau butuh, atau kau hanya mencoba menumpuk memori untuk mengeraskan kepalamu, mari kita bicarakan lagi dalam bercangkir kopi, selesaikan pesan-pesan yg kau titip di awan, berlagak seolah-olah halu mengobrol sendirian, lipat selimutmu untuk melihat matahari pagi, dari sela-sela jendela cahaya oranye menyilaukan mata menatap hari esok
Langganan:
Postingan (Atom)