Ridwan Bin Taher Blog
All About Sosiologi
Sabtu, 01 Agustus 2026
aku dan dunia
aku terlalu lama menahan, menahan sesuatu yg sangat berat, ingin ku lepaskan tapi tidak bisa dilepaskan, ingin ku lari tapi kakiku tertanam begitu dalam, aku sangat iri melihat dunia, dunia yg sangat ku benci, dunia yg membuat ku selalu menunduk malu pada diri sendiri, mungkin sedikit apresiasi sangat berarti atau mungkin aku hanya bisa menyenangkan orang lain, terkoyak sudah egoku untuk menjadi diri sendiri, aku selalu berharap pohon itu tak meninggalkanku, berharap awan itu selalu menaungi diriku, tapi esok dia sudah hilang dengan benci, mungkin aku hanya orang yang tahu aku bukanlah rumah terbaik bahkan untuk diriku sendiri, bahkan aku takut menghadapi kematianku sendiri, karna ku tahu betapa menakutkan sendirian dalam deras hujan malam, aku iri mereka bisa berpura dengan dunia, aku iri mereka bisa menahan beratnya impian yg terpendam, walaupun wujud impian mereka tetap hidup dalam bentuk yang lain, sejenak saja mereka berkeinginan dan menghentikan keinginannya untuk melayani keinginanku, atau tetap percaya pada inginku, tapi sudah tak memungkinkan lagi berpendapat pada mimpi orang lain, aku terlalu mengoyak egoku untuk menjadi aku, sederhana saja aku ingin hidup selamanya untuk didengar, menjadi subjek yang pantas dilayani dgn pengorbanan sebentar saja, namun sudah tak mungkin lagi, aku hanya bisa hidup membuat dunia tersenyum sejenak, menawarkan secawan anggur memabukkan dan kembali meracuni diri sendiri perlahan, aku sudah berdamai dgn keriuhan luka dan aku sudah berdamai dgn kesunyian hati, tanpa dia, mereka, kamu, atau mungkin aku takan pernah pulang ke rumahku
Senin, 20 Juli 2026
Akur Diri
suara itu bergema dalam peraduan ingatan, menuntut keajaiban tetap bernalar logika, entah semua data menunjukkan tidak signifikan, persentase analisa mikro masih menjelaskan kepingan keselarasan yg terus berulang, maka semua upaya bukan untuk menantang, tapi eksperimen reduksi makna indikator melalui teori paradoks, jika data yang tampil selalu tak valid, bukan berarti penelitian ini akan gagal pada akhirnya, memikirkan hasil mungkin kita akan pesimis, karena sedari awal kita hanya diberikan petunjuk, metode adalah prosedur kerjanya sedangkan hasil tetaplah bonus dari kerja keras yang berani memecahkan sebuah pertanyaan penelitian, siapa aku kata socrates, memaknai diri bukan menjadi id atau ego, kutemui kandangun empiris dalam perjalanan waktu, belajar dari kekaburan data mayoritas, sandaran teoritis barulah ku pahat pada literasi yang cacat, memang pandangan role model sudah dipersempitkan, tapi dinamika antara amigdala dan jiwa meronta-ronta pada irama yang sama, maka kuputuskan bertarung dengan tujuan yang sedari awal tak mempunyai persentase berhasil, maka yang ku pahami bukanlah penelitian ini berhasil atau tidak, tapi differensiasi metode yang semakin beragam, pola-pola instan akan terlihat lusuh di atas estetiknya proses terjanjikan elegan dalam tiap jawaban syukur bagi mereka yang terpantaskan berdamai dgn siapa dirinya
Minggu, 28 Juni 2026
Ragamu
senyum sederhanamu bagian dari kebahagian ideal yg sering ku mimpikan, genggam hangat tanganmu bagian dari ketenangan yg ku titip pada ambisi rekayasa anganku, sempat membunuh semua prasangka baik dengan kepasarahan realitas, kemudian kenyataan menjawab sebaliknya dengan kepahitan, berpikir bahwa kepekaan tidak penting, kata-kata sastra seperti bualan, pertarungan hati seperti dongeng semenjana, terpenting itu isi bukan bumbu yg meperkaya rasa, kemudian terhenti di persimpangan relakan saja, aku bingung mengapa kita diberikan kuasa atas indra, panggung di mana lakon dimainkan wajah yg beda, kemudian dia si sialan itu berpura-pura lupa, menyembunyikan impian dalam bayang-bayang logaritma fana, memindahkan hormon dopamin pada pujian bukan pencapaian, taukah oksitosin kita masih melekat pada dinding neuron, tapi kau masih mengharap serotonin pada rasa aman, yang membuat ideal bukanlah mengisi kandungan ego pada layarmu, yang membuat tenang adalah membiarkanmu terbaring tenang di atas tangan bukan punyamu sendiri, aneh banyak menganggap mengisi ruang kosong artinya menyibukan diri, mengisi rasa bosan dengan mengakses wacana bukan rencana, jadi tangan mana yang kau pilih? yang sering mengakses pujian atau kah yang merencanakan masa depan, dan mereka sering berkata kau begitu bodoh dalam lingkaran kategori ataupun mereka mengira kita berhak memilih jiwa yang berpasang, sedangkan di dunia yang lain berkata bahwa ada yang saling menarik dan ada juga yang saling menolak, bagaimanapun juga merelakan bukanlah opsi tapi rangkulah percaya walau sesak dihakimi, bukankah pulang ke rumah adalah kerinduan kita selama ini, bukan tentang rumah belaiu ataupun rumah yg disediakan tapi rumah yang kita bangun bersama
Rabu, 17 Juni 2026
Mengulang
tiap perjalanan sudah menimbun jejak-jejak kosong antara kenangan yang tua, keheningan menawarkan ketidakberdayaan kuasa, tetap bertahan meskipun meleleh dikuras usia, bagai kiasan lukisan lumut di tembok sembab, basah menahan dingin air hujan menguap, aku tersenyum menahan air mata keraguan, mengalir deras berbalik arah menusuk dada, mungkin saja takut keluar karena malu, akan tampak konyol basahi pipi yang karatan, ku dengarkan lagi ocehan doa malam, setiap diperdengarkan pada ratapan lantai hitam, bermula esok bisa berpendapat selalu ada harapan semu, walaupun tetap terbantahkan kabar yang belum juga terang, aku tau dia belum juga lelah, aku juga sungguh demikian, yang pasti selesaikan dulu satu persatu pertarunganku, tak usah berprasangka buruk, toh banyak yang sudah terselesaikan oleh beliau, meskipun menit dan jam berdetak kencang, mendekati hitungan mundur waktu jam pasir, kita yang sama tak didengar, meski berteriak keras di puncak amplitudo, kemudian berpura-pura di balik topeng ambisi, beramjinasi liar tentang raga, melupakan hangatnya rasa pelukan, demi menyembunyikan kebutuhan jiwa dengan mencoba memberikan asupan pada mata yang mulai minus, bahkan membungkam telinga dengan irama yang meremukkan dada, bahkan bekas hawamu tak sedetikpun hilang, setetes asamu tetap merasuki rencana, meski potret sejarah memudar larut di udara, semoga gengsi kita akan hilang di perjumpaan selanjutnya,
Minggu, 31 Mei 2026
Kebas
Terlahir di rumah yang berantakan diantara himpitan kekecewaan masa lalu atau meneruskan hidup dari puing-puing cinta kemunafikan, menerka arti senyuman panggilan nak, atau jadi tameng dari luka dan alasan mereka untuk bertahan, mereka terlihat baik" saja pada ujung senja memeluk perjuangan dam hikmah, bagaimana aku bisa menerjemahkan rasa sayang jika aku sungguh tak percaya bahkan pikiran tidak termodelkan rasa itu, rasa benci tumbuh menjadi pasrah, bakti bukanlah bukti tapi ketakutan akan mati, bahkan mereka percaya kita adalah cemara, taukah cemara itu telah tumbal oleh pasang air laut yang membawa lupa pada trauma yang sudah tertumpuk, mudah saja kalian menutupi diri dengan ambisi, bagaimana jika hidup tak terarah, kosong menggapai mimpi yang tak pernah berbentuk, bangkai ini telah membusuk dan kaku tak berkontrasi, memang ku pikul model yang terhidangkan makanan makna di dalam struktur, untuk apa dipelajari jika kenyataan memukul keras tanpa belaan, terus mereka berkata kamu enak dengan segala macamnya, apa yang ada di pikiranmu kamu adalah korban, pelaku dan saksi ahli di situasi yang sama, di depan hakim tanpa pembela bahkan penjelasan kesaksianmu tak patut diperdengarkan, kamu pulang dalam kesendirian memeluk kebenaran tapi tak ada yang menenangkanmu bahkan bersedia memberikan cahayanya, mungkin sejengkal jurang kamu akan lompati tapi tepat di bibir jurang berkata apa kamu menyerah, apa kau pencundang? yang kulihat adalah bukan takut pada kekalutan kerumitan drama, tapi akhir dari jauh perjalanan yang sudah kebas
Senin, 04 Mei 2026
Sudahlah ini tak biasa
Kebisingan akan kemajemukan kendaraan mengulang suara bisumu, menegakan aroma parfum abadi terselip pada lampu berbinar, pada jalanan beraksara bahasa pelarian di sekian malam, berputar di lorong-lorong yang mengobati sunyi hatimu, hingga kau hinggap di penawaran kisah yang mungkin tak ingin kau rajut, tak ada cara menghapus seketika ataupun mengubur mata yang terkontaminasi beribu alasan untuk hidup di tulisan pada buku harianmu, menyertai prosa menyerupai doa sertai langkah yang seakan menua tapi tak bisa binasa, segala hal yang telah kita lukis bukan irisan tinta yang terlihat pada rak-rak market tapi tinta darah merah yang mengalir di nadi-nadi, berdenyut bersama hembusan nafas, menahanku duduk berlama-lama pada pandangan yang sama, meski tak nyata lagi impian yang sudah kalut, tetap saja tubuhku terpaku pada dorongan untuk tetap bernyawa atas cerita semu, mungkin kegilaan ini tak bisa di ukur ataupun tak bisa kita terka, biarlah diceritakan oleh awan dan pohon rindang yang merekam pertaruhan kita, yang ku ingin dan yang ku kunci pada logika selalu tak sama, membiasakan diri pada lamunan atau berperangai normal dengan melodi lagu populer, tak pernah menyudahi beribu pertanyaan membabi buta mengahantam kesadaran, ketika mata menuntut untuk terbuka di pagi hari, warna tembok tetap meletakan prioritas memperjuangkan riwayat bayangan hitam yang tesemat diantara beribu tawaran yang akan menghantam pada hari itu juga, sudah tak peduli pada ketakutan, hanya berorientasi pada kekuatan moral yang belum terselesaikan yang belum kita sempat tamatkan
Selasa, 21 April 2026
Hari Pria
mengekstrasi pria vs wanita, mengapa harus sepasang apakah harus dipasangkan, bagaimana dengan yang memutuskan sendiri, mari kita kembali melihat lebih luas cakrawala di langit, melihat langit bukan pada keangkuhan pada pandangan yang meninggi, tapi melihat langit mengapa dia harus di atas, terbata-bata mulut menjelaskan kesombongan dan kesetaraan, dimana manusia selalu meletakan atribut pada pencapaian, bahkan menang dan kalah adalah atribut nilai absolut, yang menindas itu kemenangan atau yang tertindas itu kekalahan, bahkan sulit ketika ego menjadi bagian diri ini, mari kita mulai dari mengekstrasi pria, dia menjadi awal dalam cerita, bukan karena dia pertama kemudian menang, sore ini ku dengar sebuah pengorbanan, dari sebuah fakta untuk keromantisan, pria tak pernah memikirkan dirinya sendiri, dan memang seharusnya pria ideal adalah tak memikirkan egonya, tanpa menapikan beberapa pendapat berbicara hipotalamus pria yang dominan, saya lebih memilih ladang berjuang pria ialah apa yg dilindunginya, faktanya cinta idealnya pria adalah rela memberikan segalanya sebagai bukti pengorbanan, logikanya ketika pertama kali berteriak kami mulai terikat dengan wanita, pada ibu, isteri maupun anak perempuan, tapi menanti hari penghargaan untuk pria tak tercipta jika itu sudah melekat pada misi hidupnya, aku lebih memihak pada rasa sakit ini daripada posisi di mana pria lebih senang mencari kesenangan yang lain, kemudian berbicara tentang bagaimana dengan pengkhianatan, dalam pikirku, aku cukup berjuang untuk melindungi dan berkorban sepantasnya, tapi urusan mengeraskan bukanlah tipeku, maka munculah bagaiamana jika tidak setara atau tidak sesuai berjalan dengan rencana, kembali lagi memperbaiki diri, tak perlu menyalahkan yang lain, bagiku berada pada jalur yang ku jaga sepatutnya aku tak perlu takut, mungkin aku kurang mengeraskan suara untuk berdoa atau mengeraskan tulus dan syukur, demikian menjadi pria sebuah keutamaan memperjuangkan apa yang dilindunginya dengan wajar selepas itu aku tak inginkan apapun, hidupku adalah berkorban
Langganan:
Postingan (Atom)