Minggu, 22 Maret 2026

Bermimpilah

selamat malam untuk manusia yang sedang bermimpi, yang menggantung mimpi di dinding kamar, yang merangkai kata-kata doa semesta sebelum tidur, yang menitipkan harapan ingin pada awan-awan putih di angkasa, yang menyanyikan kerinduan di antara bintang-bintang, aku hanya ingin mencubit sedikit kue yang kalian peluk sebelum terimajinasi dalam bunga tidur, janganlah pernah lelah ya, tetap rintis bayang itu, meracuni sekililingmu meliputi senyuman indah yang kau persembahkan dalam api asmara dongeng romansa, percayalah tak ada mimpi yang tak bisa terwujud, kecuali kau hanya pengecut yang melarikan dari rasa sakit, rasa takut tak pernah ada jika jujur itu tulus dalam makna, setiap jejak pesakitan itu adalah ciptaan dirimu sendiri yang kau tolak atas kesadaran keangkuhan makna bahagia kiasan, berusaha atas kenyamanan dunia angka yang dikalkulasi logika, membunuh mimpimu itu perilaku bunuh diri, temukan cara-cara menemukan mimpi itu bukanlah pengorbanan, mereka mengadaptasi misi, visi dan harga empati yang kian meninggi, memilih untuk menyandarkan juang pada kepasrahan pikiran tak bisa mencairkan asa yang kau genggam erat pada pahatan cita-cita, tahukah engkau tak ada yang pernah mengatur irama seindah suara kalbumu, atau hatimu telah bisu dan tuli, jangan-jangan kau tak bisa bedakan isi pikiran dan isi makna kedalaman samudera amigdalamu, jika kau mau dengarkan sejenak, alogaritma alam selalu menaungi ruh di setiap eposide, tanpa memerlukan restumu yang belum sanggup mencerna makna, pilihan telah tersedia di meja makan yang mewah, yang akan engkau santap sebagai nutrisi jiwa mempertahankan hidup, layak makanan yang terlihat enak menyimpan racun, sedangkan makanan yang tersingkirkan selera perlahan terlupakan dalam sunyi, caraku menghayati rasa sakit untuk memahami bahwa inilah adalah karya titipan tangis bahagia merangsang empati yang tak ada batasnya, menghasilkan kasi sayang tanpa pamrih di keikhlasan tertinggi, aku bukan mencontoh tapi jangan kau lupa mendefiniskan mimpi hanya bentuk menyenangkan, karena ketika merasakan ketulusan di dalam jiwa, bahkan api pun terasa sejuk di kulitmu

Rabu, 11 Maret 2026

Menyuarakan Juang

akankah berserah menatap usang, dalam keteduhan air pasang, mencoba mengais sisa jasad antrhopoda, menghimpun tenaga di titik surut yang kembali mengering, mencoba tersadar dalam bisu, menyimpan logaritma bahasa kalbu, beradu antara percaya dan ragu, diantara keluh dalam tiap doa semesta, mengahalau nestapa yang terus mendera, dengan kesekian gelap ruang kamar, berdiri di peraduan ambisi, mempetakan perjalanan di tiap kemungkinan pikiran, mempertaruhkan sebuah nama atas cita, dalam pijakan kepasrahan takdir, dibalut kerumitan keyakinan pendalaman peran, mempelajari pesan dalam tanda-tanda kesempatan, belumlah kalah di setiap nafas tersisa, belumlah usai di mata terbuka dari pagi ke pagi, kami adalah sekelompok pemain yang menjalankan skema perintah, dipaksa berliterasi agar langkah tak mudah tergoyah, mendayakan kreativitas menerjemahkan akasara, mana mungkin mimpi besar lahir dari kepayahan yang kecil, sepatutnya rasakan dan rayakan keterasingan lebih baik daripada menikmati kesementaraan arti, tetaplah menyederhanakan ingin untuk menunjujung kemewahan angkasa, tetap memenuhi isi logika di satu kebenaran dan keberanian petarung, tanpa rasa takut dan cemas pada gambaran yang transparan, dalam menghinakan diri di ketidakberdayaan yang tidak jelas dinamikanya, tetaplah berspekulasi mengusahakan eksistensi di bingkai kebebasan memanfaatkan yang telah di titipkan sampai usai tugas benar-benar terhenti oleh waktu

Sabtu, 07 Maret 2026

Tentang Rasa Ini

aku mencintaimu meskipun tak logis, aku mencintaimu meskipun tak ada yang mengakuinya, aku mencintaimu meskipun tak ada yang percaya, aku mencintaimu bukan sebab tapi aku telah menyerah pada hatimu, aku mencintaimu tanpa menjelaskan bagaimana, aku mencintaimu tanpa ada ukurannya, aku mencintaimu tanpa sadarku, aku mencintaimu tanpa kriteria tertentu, aku mencintaimu dalam deras hujatan Katanya hanya memanfaatkan, katanya hanya tipu daya, katanya hanya guna-guna, katanya hanya merekayasa, katanya hanya memanipulasi malah sebaliknya, tiap dicoba bernalar, tiap dicoba dikalkulasi, tiap dicoba disimulasi, tiap dicoba didefenisi, tak ada hubungannya sama sekali, kau mulai berdansa di pikiranku, kau mulai bernyanyi di ruang amigdala, kau mulai mengahantui di alam mimpi, kau menyatu di satu tuju sadarku mengdramakan pesimitis, menepis kebulatan ragu, memerangi ketidakkemungkinan, meredakan segala ketidakseimbangan kita padahal kau mengerti apa yg terjadi, padahal kau sadar apa yg sedang terkondisikan, padahal kau tau jalan keluarnya nanti, padahal kau tau apa yg tersembunyi jangan hidup hanya dikendalikan ketakutan, sehingga kau bersenandung dengan perasaan yang digantungkan dengan harapan, atau memaksakan diri di mimpi orang lain yang tak pernah menyertakan hidupmu dalam rencananya karena kau sedang bermain-main untuk dirimu sendiri untuk memperpanjang pelarian tanpa tepi

Senin, 02 Maret 2026

Mengatraksikan Keadaan

Tak ada yang ku tempat tertuju adalah persinggahan langit, tak ada tempat terindah selain laut, ku dengar mereka pernah bersatu lalu terpisah, ku lihat itu dari atas puncak gunung, di mana mereka sama oleh jejak warna, saling mengasingkan antara rindu tanpa pertemuan, lucunya mereka menyuarakan kasat rasa oleh air, lahirlah lukisan awan mencipta bahasa berpeluh, yang pada akhirnya saling bertukar cerita lewat hujan, lalu ku upayakan berseloroh dalam doa, menetapkan arah capaian ide, tanpa memerlukan sebab, tanpa memakai ambisi ego, menyandarkan takdir di skema pertarungan, aku tak ingin melangkahi jejak ilahi, slama ini mempertaruhkan insting yang di belenggu bisikan angin berhembus, kemarin menyandarkan pasrah, membuat pola ikhlas di dimensi muak, seolah-olah memperalat diri sendiri sebagai pecundang, mencoba tersenyum pada rekayasa penyangkalan, menuntun langkah ragu-ragu, pada kiasan sajak pujangga menghidupi lilin di hati yang asing ku mendaramakan kosombongan diantara paham, seakan dapat menembak kalam takdir, mendesain tiap kerangka frame aksi, seolah-olah mendefenisikan sutradara di atas segala Padahal pojok kamar ini masih berhantu, menjerit kesakitan saat peluh, tertawa dengan coretan pena yang beradu realita dan abstraksi, beratraksi pada seni membunuh karakter diri sendiri

Sabtu, 14 Februari 2026

Tetaplah Bestari

bagaiamana cara menjelaskan cinta itu unik, tidak dapat di serupakan atau menyerupai sesuatu, sesuatu yang tak pernah berwujud namun diam-diam dia kesurupan, mengobrolkan semalam suntuk pun tak akan pernah selesai, kadang manusia suka bersepakat dalam hubungan intim, tapi sesungguhnya itu hanya pelarian dan pengalihan validasi, keterikatan dalam cinta tak butuh aturan atau tata cara dalam melakukannya, dia dihadirkan dalam raga masing-masing untuk menjemput petunjuk rumah seperti apa yang ingin dihuninya nanti, apakah mereka menyelidiki lebih dalam cinta ini berlabuh, selama ini kita beralasan pada motivasi, padahal dia juga tak butuh dukungan, lalu berkata nanti juga akan pergi hilang berganti, aku hanya mencoba hilang ingatan saja, di dalam sains, cinta dijelaskan dalam bentuk kinerja otak yang di manipulasi merangsang syaraf-syaraf berpikir menjelaskan kodrati humanis, sedangkan dalam social bermunculan hubungan-hubungan intens yang menimbulkan ketertarikan, perhatikan hubunganmu yang terencanakan dan hubungan tanpa rencana, mempunyai selera humor yang sama adalah hipotesa sementara, jujur aku tak tahu cara untuk melepaskan ketersesatan pikiran, setiap bertarung dengan waktu, suasana itu menjebakku kembali untuk di jalur yang sama, hey, dengarlah ini bukan sekedar mencipta rumah, ini bukan sekedar merencanakan perjalanan pulang, tapi orang yg akan menemanimu bukan hanya di bumi tapi sampai di akherat kelak, di kesempatan kesekian kali doanya tetap sama, beranjak dari semua ketidakkemungkinan

Kamis, 12 Februari 2026

Semoga Menjawab

pada awalnya mencoba tidak terjebak dengan logika, dimulai menyusun rencana, mengukur semua kemungkinan, membuat langkah demi langkah, menyiapkan prasangka untuk pergi, namun aku lupa dengan emosi, karena pada saat itu emosi bukan milikku lagi, belajar bahwa manusia itu selalu tak bijak menyelesaikan waktu, mereka tak mengerti manipulatif, bahkan tidak tahu sedang memanipulasi dirinya sendiri, pada akhirnya tak ada namanya kemenangan dalam pertarungan hati, mereka selalu berkisah tentang tujuan berdiri di atas monopoli kehormatan, atas dasar harga pencapaian popularitas prestasi, tamak atas pribadi sendiri dengan menginjak kesadaran kodrat humanis, sediakan waktu untuk berkorban untuk sesuatu yang tak memperdulikanmu, sediakan ruang untuk sebuah kenangan yang tak pernah pulang untukmu, maka di saat itu, kamu menemukan defenisi ikhlas, bukan perihal berjuang untuk tujuan, bukan perihal bertarung demi mimpi, tapi belajar dari arti kata saling dalam defenisi kita yang telah direncanakan dan dipertemukan, karena sulit menyangkal suara validasi dan ekspetasi atau desakan masalah yang timbul dari kewajaran interaksi, berkali mereka mencoba membunuh keyakinan, kenyataan dan emosi, ketika menemukan kata pasrah di situlah mereka terjebak oleh mimpi orang lain, kebenarannya adalah mereka tidak tahu sedang diperalat oleh rencana yang sama, yang dibuat oleh orang yang hidupnya diperalat juga, selamat datang di lingkaran warisan milenial orde baru, maka berjuanglah pada kebutuhan humanis, bukan bingkai kebanggaan dan kehormatan, rencanakan ketenanganmu sebelum direbut paksa oleh amarah mencaci ketidaknyamanan takdirmu

Rabu, 28 Januari 2026

dan kemudian

usang rusuk kiri retak, wujudnya luntur tak kasat mata, jika telah diketahui tapi tetap terjun, apakah harus berkata luka atau jebakan, takdir tak ada yang tahu, antara bertemu atau dipertemukan, gambaran keinginan yang selalu di tutup ragu, seperti tulisan angkasa melukis warna langit, apakah patut lukisan itu diperbenarkan atau disalahkan, jika yang ada sudah memang enak pandang, hanya saja semua berbeda kepala, kemudian apa bedanya rasa dan logika, jika benar atau jika nyaman, dalam mempertanyakan presepsi atau mempertanyakan hal yang sudah terjawab, lalu kemudian mereka berusaha menjawab dengan kembali berbohong, meretak dalam tipu daya logika ambigu, hanya puisi dan lagu menyampaikan teriakan rasa yang menjadi hiasan harapan, kembali aku semakin tak mengerti ketika mereka memberi alasan atas standar dan syarat, kembali mereka membual atas dasar rasa ragu yang sesungguhnya mereka tak pernah berani bahagia, ku pertaruhkan semua kali ini, untuk sekali lagi mempercayai tulisan sajak masa lalu, mengkombinasikan sederahananya bahagia masa kecil dalam wujud tubuh yang dewasa, perasaan akan ku tahan dalam sederhananya, sedangkan pendewasaan ku letakan dalam topeng materi sebagai tiket kamuflase, ku berbicara pada burung di sore ini agar merahasiakan semuanya, mungkin nanti ada yang mengerti ketenangan ini, di mana telah punah dengan desakan ekonomi mengontrol waktu mereka, ataupun pikiran feodal titipan penjajah mengeruk isi kenangan yang terus diwariskan, tak ada pilihan selain bersembunyi dalam semak keterasingan untuk menonton tayangan peran-peran kerakusan, dan di akhir cerita nanti berharap ada yang waras menyelamtkan diri dari permainan busuk akhir zaman