Ridwan Bin Taher Blog
All About Sosiologi
Rabu, 17 Juni 2026
Mengulang
tiap perjalanan sudah menimbun jejak-jejak kosong antara kenangan yang tua, keheningan menawarkan ketidakberdayaan kuasa, tetap bertahan meskipun meleleh dikuras usia, bagai kiasan lukisan lumut di tembok sembab, basah menahan dingin air hujan menguap, aku tersenyum menahan air mata keraguan, mengalir deras berbalik arah menusuk dada, mungkin saja takut keluar karena malu, akan tampak konyol basahi pipi yang karatan, ku dengarkan lagi ocehan doa malam, setiap diperdengarkan pada ratapan lantai hitam, bermula esok bisa berpendapat selalu ada harapan semu, walaupun tetap terbantahkan kabar yang belum juga terang, aku tau dia belum juga lelah, aku juga sungguh demikian, yang pasti selesaikan dulu satu persatu pertarunganku, tak usah berprasangka buruk, toh banyak yang sudah terselesaikan oleh beliau, meskipun menit dan jam berdetak kencang, mendekati hitungan mundur waktu jam pasir, kita yang sama tak didengar, meski berteriak keras di puncak amplitudo, kemudian berpura-pura di balik topeng ambisi, beramjinasi liar tentang raga, melupakan hangatnya rasa pelukan, demi menyembunyikan kebutuhan jiwa dengan mencoba memberikan asupan pada mata yang mulai minus, bahkan membungkam telinga dengan irama yang meremukkan dada, bahkan bekas hawamu tak sedetikpun hilang, setetes asamu tetap merasuki rencana, meski potret sejarah memudar larut di udara, semoga gengsi kita akan hilang di perjumpaan selanjutnya,
Minggu, 31 Mei 2026
Kebas
Terlahir di rumah yang berantakan diantara himpitan kekecewaan masa lalu atau meneruskan hidup dari puing-puing cinta kemunafikan, menerka arti senyuman panggilan nak, atau jadi tameng dari luka dan alasan mereka untuk bertahan, mereka terlihat baik" saja pada ujung senja memeluk perjuangan dam hikmah, bagaimana aku bisa menerjemahkan rasa sayang jika aku sungguh tak percaya bahkan pikiran tidak termodelkan rasa itu, rasa benci tumbuh menjadi pasrah, bakti bukanlah bukti tapi ketakutan akan mati, bahkan mereka percaya kita adalah cemara, taukah cemara itu telah tumbal oleh pasang air laut yang membawa lupa pada trauma yang sudah tertumpuk, mudah saja kalian menutupi diri dengan ambisi, bagaimana jika hidup tak terarah, kosong menggapai mimpi yang tak pernah berbentuk, bangkai ini telah membusuk dan kaku tak berkontrasi, memang ku pikul model yang terhidangkan makanan makna di dalam struktur, untuk apa dipelajari jika kenyataan memukul keras tanpa belaan, terus mereka berkata kamu enak dengan segala macamnya, apa yang ada di pikiranmu kamu adalah korban, pelaku dan saksi ahli di situasi yang sama, di depan hakim tanpa pembela bahkan penjelasan kesaksianmu tak patut diperdengarkan, kamu pulang dalam kesendirian memeluk kebenaran tapi tak ada yang menenangkanmu bahkan bersedia memberikan cahayanya, mungkin sejengkal jurang kamu akan lompati tapi tepat di bibir jurang berkata apa kamu menyerah, apa kau pencundang? yang kulihat adalah bukan takut pada kekalutan kerumitan drama, tapi akhir dari jauh perjalanan yang sudah kebas
Senin, 04 Mei 2026
Sudahlah ini tak biasa
Kebisingan akan kemajemukan kendaraan mengulang suara bisumu, menegakan aroma parfum abadi terselip pada lampu berbinar, pada jalanan beraksara bahasa pelarian di sekian malam, berputar di lorong-lorong yang mengobati sunyi hatimu, hingga kau hinggap di penawaran kisah yang mungkin tak ingin kau rajut, tak ada cara menghapus seketika ataupun mengubur mata yang terkontaminasi beribu alasan untuk hidup di tulisan pada buku harianmu, menyertai prosa menyerupai doa sertai langkah yang seakan menua tapi tak bisa binasa, segala hal yang telah kita lukis bukan irisan tinta yang terlihat pada rak-rak market tapi tinta darah merah yang mengalir di nadi-nadi, berdenyut bersama hembusan nafas, menahanku duduk berlama-lama pada pandangan yang sama, meski tak nyata lagi impian yang sudah kalut, tetap saja tubuhku terpaku pada dorongan untuk tetap bernyawa atas cerita semu, mungkin kegilaan ini tak bisa di ukur ataupun tak bisa kita terka, biarlah diceritakan oleh awan dan pohon rindang yang merekam pertaruhan kita, yang ku ingin dan yang ku kunci pada logika selalu tak sama, membiasakan diri pada lamunan atau berperangai normal dengan melodi lagu populer, tak pernah menyudahi beribu pertanyaan membabi buta mengahantam kesadaran, ketika mata menuntut untuk terbuka di pagi hari, warna tembok tetap meletakan prioritas memperjuangkan riwayat bayangan hitam yang tesemat diantara beribu tawaran yang akan menghantam pada hari itu juga, sudah tak peduli pada ketakutan, hanya berorientasi pada kekuatan moral yang belum terselesaikan yang belum kita sempat tamatkan
Selasa, 21 April 2026
Hari Pria
mengekstrasi pria vs wanita, mengapa harus sepasang apakah harus dipasangkan, bagaimana dengan yang memutuskan sendiri, mari kita kembali melihat lebih luas cakrawala di langit, melihat langit bukan pada keangkuhan pada pandangan yang meninggi, tapi melihat langit mengapa dia harus di atas, terbata-bata mulut menjelaskan kesombongan dan kesetaraan, dimana manusia selalu meletakan atribut pada pencapaian, bahkan menang dan kalah adalah atribut nilai absolut, yang menindas itu kemenangan atau yang tertindas itu kekalahan, bahkan sulit ketika ego menjadi bagian diri ini, mari kita mulai dari mengekstrasi pria, dia menjadi awal dalam cerita, bukan karena dia pertama kemudian menang, sore ini ku dengar sebuah pengorbanan, dari sebuah fakta untuk keromantisan, pria tak pernah memikirkan dirinya sendiri, dan memang seharusnya pria ideal adalah tak memikirkan egonya, tanpa menapikan beberapa pendapat berbicara hipotalamus pria yang dominan, saya lebih memilih ladang berjuang pria ialah apa yg dilindunginya, faktanya cinta idealnya pria adalah rela memberikan segalanya sebagai bukti pengorbanan, logikanya ketika pertama kali berteriak kami mulai terikat dengan wanita, pada ibu, isteri maupun anak perempuan, tapi menanti hari penghargaan untuk pria tak tercipta jika itu sudah melekat pada misi hidupnya, aku lebih memihak pada rasa sakit ini daripada posisi di mana pria lebih senang mencari kesenangan yang lain, kemudian berbicara tentang bagaimana dengan pengkhianatan, dalam pikirku, aku cukup berjuang untuk melindungi dan berkorban sepantasnya, tapi urusan mengeraskan bukanlah tipeku, maka munculah bagaiamana jika tidak setara atau tidak sesuai berjalan dengan rencana, kembali lagi memperbaiki diri, tak perlu menyalahkan yang lain, bagiku berada pada jalur yang ku jaga sepatutnya aku tak perlu takut, mungkin aku kurang mengeraskan suara untuk berdoa atau mengeraskan tulus dan syukur, demikian menjadi pria sebuah keutamaan memperjuangkan apa yang dilindunginya dengan wajar selepas itu aku tak inginkan apapun, hidupku adalah berkorban
Selasa, 14 April 2026
Sial
sial lagi terpuruk dalam keraguan, mendapati hati yang sementara mati, melanjutkan imajinasi atau menjajaki nama baru kembali, masih ku rayakan luka dengan ambisi, membenci tiap aura sel kenangan yang terbang di sekitarku, memupuk cerita luka di goresan buku, beralasan di dengar lebih keras oleh rindu yang tak punya tuan, sial berhenti di kaca kamarku, terkurung frame memori senyuman, wajahmu hadir dalam kepulan asap atau lagu yang kita dengar bersama dulu, hidupku terobses ketulusan cintamu, kembali diriku mengkritisi sikapku sendiri, tiap jejak dan tiap kesombongan intelektual yang rapuh, melewatkan waktu yang ku tidak dihargai selayaknya, bahkan tuhan terus menghadirkan asa berkali, tetap membuatku menganggap semua tetap sampah, sial aku tersesat lagi, terpuruk dalam jiwa penolakan, menyalahkan diri sendiri sedari awal, mencoba lari untuk mengobati tapi tak pernah tersembuhkan, asumsi materi dan sendiri lebih menenangkan, padahal hanya tipu daya otak berusaha bertahan semu, tak ada salahnya mengemis hati kita, tak ada salahnya merespon berlebihan perayaan perasaan, toh kita juga tak pernah meminta untuk jatuh cinta pada makhluk yang terjadi begitu acak, ketahuilah cerita ini dipertemukan bukan kita yang berkeinginan, bahkan kita tak bisa mengendalikan ingin kita, kita hanya di suruh membaca dan belajar menginterpertasikan dengan pikir yang matang, bahkan sudah ada jawaban yang tersedia pada tanda dan tulisan, aku mengagumimu bukan karna aku mau itu, tapi aku diberikan rasa untuk terus kagum padamu, cuman aku saja tak bisa membaca tanda-tanda jadi baik, maka aku juga tak ingin pergi kemana-mana, hanya menunggu perintah selanjutnya dari langit, tapi yang sulit dalam cinta adalah merindukanmu tiap detik, rindu ini tak menyiksa tapi rindu menuntunku terus hidup, bahkan jika rindu hanya tersusun pada barisan file di amigdala yang kemudian tertimbun, bukan juga masalah dan itu normal, saya tahu lebih sakit membangun sesuatu dari pelarian takan pernah menyembuhkan, pada akhirnya biarkan peluru-peluru panas ingatan menembakiku, sampai nanti kita bertemu pada senja yang kita tunggu dulu
Kamis, 02 April 2026
Ruang kreasi
tuhan selalu menyelamatkanku meski ku terjebak dalam lubang yang sangat gelap dan pekat, bertahun-tahun aku masih hidup dan bernapas dengan degupan jantung yang memacu kencang beradu dengan racun yang ku masukan dalam paru-paru menahun, rasanya ingin berhenti bergerak, membungkam semua anggota tubuh tanpa pengecualian saat semua mulai mensenja, kematian mental yang berkepanjangan membawa pengecut yang semakin membesar, arti dari ketiadaan ambisi dalam melakukan segala hal, seperti hidup dalam ketiadaan makna hidup, acap kali badan terenyuh dalam penyesalan berkali ia bangkit mencari makna mandiri, seakan otak ini bukan milik perubahan zaman, malah semakin mempertanyakan teknologi daripada ikut merayakan kemajuan modernisme, aku tak mempertanyakan cobaan yang mendera, tapi ada tangan tak kasat mata yang terus menghangati tiap kesalahan dan dosa yang terjadi, bukan hanya sekali aku memojokkan diri sendiri, bahkan zona nyaman bukanlah ruang kesenanganku dari dulu, andai aku menghargai waktu yang terbuang mungkin cerita akan berbeda, atau mungkin mewarisi ambisi yang kecil agar sedikit ego untuk pencapaian serta validasi, tapi sesungguhnya sekali lagi peranku selalu punya jalan sendiri, terakhir kali bermain dengan api' setelah terbakar lagi dia menyelamatkaknku kesekian kalinya, berusaha memadamkannya dengan caranya, cahaya yang tadinya ku anggap memang telah redup, dia mengusahakan nafas yang lebih bersih menggantikan tujuan yang baru, aku rela mengusik ketenangan dan istrahatku terganggu dengan projek ini, tanpa harap berspekulasi indah pada waktunya, tapi menikmati proses dari usaha yang sekecil mungkin, meskipun aku berdaya, entah melengkapi berbagai kemampuan ku rasuki dalam tubuh, tanpa makna yang jelas ku pelajari semua hal itu, ingatanku tentang kegagalan perlahan menjadi puzle teka teki yang mesti ku pecahkan sendiri dengan tangan kaca ku, aku selalu bertanya kenapa aku tak diistirahatkan, mengapa otak selalu berpikir dan berputar tanpa puas atau hidup nyaman dengan status dan ketenangan materi, malah mengkritisi tiap jejak sosial orang lain satu persatu, bukan maksud hati ingin mengguncang, sadarku tentang keterbatasan, tapi bagaimana membiarkan diri terus berkaya dengan jalan yang tua, setidaknya halte pemberhentian adalah kematian, selagi masih panjang perjalanan akan tetap ku buat sesuatu untuk menyingkap ruang pencapaian yang semu, melalui ini ku ikrarkan diri menulis dinding grafiti di kamar, bagi orang yang memandang akan menemukan arti yang sepadan apapun resikonya nanti, memulai saja biar nanti tuhan tetap putuskan kelayakannya,
Senin, 30 Maret 2026
Janji dan Mimpi
janji atau impian, malam itu membungkus janji dan mimpi, barulah rencana terpatri dalam hati, bukan janjinya tak terpenuhi, tapi usaha mencapainya belumlah baik, atau dia yang takut berjanji, taukah mimpi dapat bermula dengan kata janji, aku berjanji membahagiakanmu karena aku bermimpi dapat bahagia denganmu, Alkisah nelayan yang berjanji menghidupi rumah dengan mimpi besok ada seember ikan yang dibawa pulang, tapi janjinya bukan hanya kata, tapi perjalanan liar dalam badai ombak ketidak pastian, sebenarnya dia tak berharap untuk rumah itu menanggapi janjinya, hanya sebuah perilaku diam dan senyum yang tak bergeser prasangka, sambil berdoa mengaharap mimpi ini di bawa pulang, sederhananya sejak kapan rumah itu bisa bermutasi, atau rumah itu menganggap dengan berspekulasi dapat menambal keraguan nelayan, tentu saja tidak, karena nelayan sudah kenal rumah itu, bukan karena ingin merenovasi keraguan, tapi sedari awal rumah itu sudah ideal desainnya, hal yang ditakuti nelayan ketika pulang tanpa rumah, mimpinya ikut musnah karena tak memiliki wadah, begitulah janji tentang ikan ikut membusuk dimakan bakteri-bakteri udara, tapi mengapa aku akan terus berjanji, karena ku tahu, tak ada orang yang bermimpi untukmu, yang kau tahu kau acap kali bermimpi sendiri, terlihat di mata coklatmu yang perlahan mencekung, maka janjiku adalah impianmu' dan tetaplah di tempatmu bermula, dengan mimpi yang sama, saat semula telah kita bicarakan di bibir-bibir yang pernah beradu, biarkan karang-karang tajam itu menusukku lebih dulu, biarkan dingin air membasahiku dahulu, pastikan saja rumah kita terwadah mimpi kita kelak.
Langganan:
Postingan (Atom)