Kamis, 03 September 2026

Pojok

menikmati pojok? entah samar antara tersisih dan rasa tenang, ekspetasi menunggu diapresiasi atau layak memerankan sunyi, kadang sering berlebih-lebihan, kadang bisa di luar kendali, tapi tampaknya menikmati pojok, malam itu di hutan bambu visualku begitu gelap, otak tiba-tiba berhenti berpikir, ku komat kamit wejangan lama tentang hantu yang suka menyesatkan jalan pulang, akhirnya perlahan cahaya itu muncul di balik pucuk rimbun daun, ternyata sepersekian detik ini ku berjarak dengan rumah warga yang sejak tadi tak bergerak, namun ku merasa sejenak tertelan di dunia hitam pekat, aku tetap tak jera berjalan pada gelap, mungkin aku menikmati pojok, kemudian aku bersenandung pada kata jangan pergi, mengalamatkan kata pada senyum penghias waktu, berjalan maju atau berjalan mundur, aku sungguh tak perduli karena mungkin aku menikmati pojok, mengusahakan hadir pada hari-hari penat, mengibaskan sayap selebarnya, mengahangatkan nasi yang hampir basi, menyalakan alarm waktu yang meredup, mengajarkan suka dan luka secara bersamaan, dan kembali menikmati pojok, bayangan malaikat itu hadir di alam khayalan, berbisik mengejarnya dalam diam, sambil menginjak duri-duri yang berserakan, entah semakin jauh atau menekan tombol jeda, menganggap diriku belum penting, ada generasi yg mesti digengam hangat, atau mungkin aku terlalu nyaman di pojok, aku tak menyimpan dendam, sungguh tak tahu cara membenci, tak tahu juga caranya membuat betah, ku jelaskan senandung dalam alur permainan kepengecutan hanya untuk menegaskan aku nyaman di pojok, tak lebih tak kurang, tak menyesali apapun, mencoba berseni dan melagukan kemerduan pojok dalam perayaan sunyi yang ku perankan walau tetap rapuh perilaku, rapuh pengharapan dan rapuh kemanusiaan yang sesungguhnya aku hanya seorang manusia yang nyaman di pojok

Selasa, 01 September 2026

Pengecut

aku tahu dan aku bisa, tapi aku takut, aku ingin dan aku bisa wujudkan, tapi aku tak mau, aku takut tak sempurna, aku tak mau menyusahkan, dunia yg kalian cari, dunia yg kalian impikan, bukan berarti selalu cerah, tapi bagaimana selalu menyejukkan, hanya saja kata-kata tak pernah bisa menjelaskan, namun akan hancur dari kata-kata juga, bukan tak merasa cukup, tapi terlalu kasat makna, rasa akan selalu berbisik debarannya, tapi nilainya selalu surut angka, terbanglah tinggi merpatiku, hiduplah dgn rutinitasmu, tuntaskanlah satu persatu kebaikanmu, aku percaya kalian akan tetap terlihat normal seperti biasanya, tak perlu berbeda atau tak perlu jadi yg selalu unik, tetaplah membenci, tetaplah berpeluh, usai itu akan tetap berganti dgn awal lagi, kerap kali pohon akan akan tumbuh, selama kamu bertahan dalam metamorfosa, kita telah di kontruksi masing-masing dunia, dan aku telah terkontruksi dengan banyak tambalan yg ku cipta, mungkin aku telah mencabik-cabik dindingmu, tapi percayalah masih ada yg akan merenovasinya, entah apa alasannya, tapi kemungkinan mereka lebih bijaksana, membuatmu lebih bahagia tanpa perlu malu dan takut, walau seakan aku melihat kamu berlarian dari kejauhan mendekat dalam alam pikirku, hal itu sanggup mengunggah senyum utk esk dan esk yg abadi

Senin, 17 Agustus 2026

MailToMe

Akhir akhir ini aku merasa ingin mengakhiri diri sendiri, kombinasi antara hati dan pikiranku sudah tak sinkron seperti biasanya, bahkan aku tak bisa bedakan manakah yang katanya berpikir dan manakah yang disebut kata hati, keduanya seperti alogritma tik tok yang sering beradu antara delusi dan ilusi, berbisik dan berdebat dalam penjara nalar, aku berharap bisa kembali ke masa kecilku, saat imajinasi masih lepas kendali, pada lukisan di tembok atau bermain dgn teman khayalan, menyerderhanakan bahagia melalui petualangan kecil, kombinasi antara gerak tubuh dan otak yang saling berkerjasama, lalu muncul yg namanya dunia lain, dunia asing yang katanya maya dianggap nyata, berupa pameran informasi akbar yang katanya diprivasi tapi terharap di notice, aku dimodelkan agar memenuhi syarat pujian, bahkan ada yg teraliansi untuk bisa benar, benar berarti banyak, salah berarti sedikit, setelah itu mereka membiarkanku memenuhi standar-standar yang belum aku pahami, tak ada salah dgn teknologi, bukankah lampu bisa memberikan cahaya, tapi mengapa kita selalu berjalan mundur, melabelkan romansa masa lalu yg tak bisa berulang, bukankah kita masih bisa membuat perahu mainan dari gaba-gaba, atau hutan kita sudah dihabisi, aku mulai pasrah, diriku terkekang antara harapan org lain atau cita-cita sang pesakitan yang ambisinya gagal berpuluh tahun yang lalu, aku mulai menyembunyikan diriku lebih dalam, menggenggam bom waktu yang disebut pendewasaan, tapi mulai dari mana, dari delusi yang implusif, atau ilusi yang fiksi, kenyataannya, ada tagihan bulanan, uang mahar pernikahan, pakaian mahal, cicilan, gaya hidup, hobi, bahkan makan sehari-hari, berputar dan menghantui kalkulasi matematisku, aku takut dan mencemaskan warasku, menurut mereka generasi melemah, menurut negara generasi emas, kita manusia yg sama bukan, di sela penat ku rebahkan tubuhku di bawah fly over kota, di lorong sempit itu ku lihat ada manusia kecil yg sedang asik dengan kardus dan beberapa temannya, di manakah org tuanya, bagaimana mereka makan, bagaimana mereka bisa lewati hari-hari yg begitu berat, sepertinya ini bukan tentang aku, bukan juga tentang mereka, bukan juga tentang kita, ku urungkan kembali niatku, diriku begitu pengecut menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain, jika aku sendiri tidak tahu siapa aku?

Jumat, 14 Agustus 2026

Halte

tampaknya mereka takut kehilangan, saking takutnya mereka membenci dirinya, terus bagaimana kehilangan perasaan itu hilang, bahkan merasakan kehilangan sebelum semua menghilang, tampaknya bagaimana jika hilang itu sudah menjadi hal biasa, mereka akan berdoa berharap di pertemukan, merindukan hal yang hilang dalam dirinya, sedangkan aku tak tahu mengekspresikan hilang itu, bahkan aku bisa bernyanyi antara kosongnya jiwa, memuja mereka yang pernah merasakan kehilangan, merasakan iri pada mereka yang sedang berjuang dengan rasa kehilangan, apakah aku yang takut kehilangan, tapi sepertinya hilang itu sudah tak menarik, bahkan hilang itu sudah jadi bagian kenyataanku, apa yang bisa menggantikan bagi yang hilang, bagiku hanya barisan memori yang dieleminasi satu persatu, bagaikan halte yang kehilangan penumpang, dan aku masih yang tertinggal di halte itu, menyambut penumpang dan mengantarkan dia pada pemberhentian selanjutnya, mereka berkata tak apa kami akan mendoakan bis mu kan datang, dan sebaliknya akulah yang mengantarkan mereka, dan tak pernah doa mereka terjabah sesuai kata-kata mereka, kata terima kasih sudah terlalu penuh ku tampung dalam renung, bahkan setiap apresiasi menambah luka bekas peperangan meyakinkan mereka tetap percaya, tak apalah sekali lagi bagiku terbiasa kehilangan, demi keyakinan mereka untuk terus hidup, menemukan keinginan mereka selanjutnya, walau aku akan tetap berpura-pura menjadi manusia sempurna di mata penumpang yang bergantian datang, meminta peta petunjuk pada rumah ideal dari orang yang tak memiliki rumah sendiri

Kamis, 06 Agustus 2026

Dingin

begitu dingin pagi ini, coba mengeluh pada buluk kuduku, menghalau kabur panas pagi, tuk sebentar lagi mengimuni tubuhku, selimut ku tarik erat kembali, mendekapku dalam lelap mimpi yg belum selesai, perangkap imajinasi tentang harap dan perasaan tak menular, betapa penatnya dunia, yang di isi keinginan yg bertabrakan ego yg berubah idealis, asupan gizi pada laparnya nafsu yg abadi, timbul tenggelam separangan dan berubah-ubah, aku ingin kembali tidur walau sesulit mata yg tak selesai mengedip, kembali ku ke deretan memori paling sunyi, kutemukan berkas-berkas yg tertimbun realita, bahwa aku masih berpeluh akan waktu yg disia-siakan, pada malam-malam yang ku usahakan tetap terjaga, berpikir lagi, merenungi lagi, dan terjebak lagi, usang sudah tubuhku di biarkan membusuk, sesungghnya sudah tak peduli lagi, lalu datang lagi suara kebetulan yang sebetulnya apakah memang tak ada namanya kebetulan, mengeritkan dahi seusai berkata kalau itu ada, kalau itu memang benar adanya, aneh anggap saja diriku boneka, hanya saja mempunyai jiwa, di mana garis akhirnya, atau tak pernah ada awal dan akhir, melewati tangga-tangga yg disambut gerbang bernama ujian, jika belum lulus dibiarkan tinggal sebentar dan jika lulus di loloskan ke tahap berikutnya, beragam wajah yang ku pandangi memancarkan seni, memainkan ekspresi yang kemudian tertebak sendiri, buat apa aku datang memperingati, sedangkan aku selalu memandangi wajahku yang tampak mengerikan, sampai saat tubuh melemah, kembali lagi di mimpi yang tampaknya masih berlanjut

Rabu, 05 Agustus 2026

Memakai Topeng

beberapa orang mempunyai identitas, entah identitas sebenarnya atau identitas palsu yg sering dia panggungkan riuh, anehnya mereka lebih senang menyembunyikan dirinya dengan akun palsu walaupun tak miliki tujuan, ketika identitas mereka direspon atau mengekspose dirinya agar terrespon, apa yg diinginkan dari apresiasi jika itu juga palsu, seberapa erat jiwa kita ingin menyatu walau tak miliki relevansi yg kalkulasi, melihat pertengkaran akibat keeratan ini juga mulai menggangu, bagaimana jika saya berasumsi berbeda, bahkan sejak kecil telah terapresiasi, namun selalu jalan yg berbeda ku kejar setelahnya, aku tak menemukan identitas itu, tiap kali mereka memperkenalkan salah satu topeng, aku tak merasa memiliki topeng itu, kataku aku pasti bisa jika aku melakukanya dan mau merekayasa inginku, walaupun tak menapik diriku tetap terikat, tapi di pikiranku tak pernah terikat pencapaian, menambah topeng bagiku mencoba hal baru dan merambah dunia yang belum kupijaki, ku berpikir mungkin pikiranku terlalu cepat atau aku berjalan mundur, aku memang tak ingin di kenal, aku tak menarik sama sekali bahkan menurutku orang lain lebih menarik, bagaimana mereka mencoba meraih topeng baru atau melepaskan topeng mereka sebelumnya, aku merasa kosong, merasa bahwa hanya insting bertahan hidup, kemudian ku dapati seseorang marah di hinakan identitasnya, ku dapati juga bahagia dipuja identitas, bukankah itu sangat menjijikan, kita melanjutkan hidup yang sementara tertitip, mungkin saat ini diriku sedang berhenti, sengaja ku berhentikan sampai aku terbang dengan diriku yang tak akan di kenal orang lain sebelumnya

Sabtu, 01 Agustus 2026

aku dan dunia

aku terlalu lama menahan, menahan sesuatu yg sangat berat, ingin ku lepaskan tapi tidak bisa dilepaskan, ingin ku lari tapi kakiku tertanam begitu dalam, aku sangat iri melihat dunia, dunia yg sangat ku benci, dunia yg membuat ku selalu menunduk malu pada diri sendiri, mungkin sedikit apresiasi sangat berarti atau mungkin aku hanya bisa menyenangkan orang lain, terkoyak sudah egoku untuk menjadi diri sendiri, aku selalu berharap pohon itu tak meninggalkanku, berharap awan itu selalu menaungi diriku, tapi esok dia sudah hilang dengan benci, mungkin aku hanya orang yang tahu aku bukanlah rumah terbaik bahkan untuk diriku sendiri, bahkan aku takut menghadapi kematianku sendiri, karna ku tahu betapa menakutkan sendirian dalam deras hujan malam, aku iri mereka bisa berpura dengan dunia, aku iri mereka bisa menahan beratnya impian yg terpendam, walaupun wujud impian mereka tetap hidup dalam bentuk yang lain, sejenak saja mereka berkeinginan dan menghentikan keinginannya untuk melayani keinginanku, atau tetap percaya pada inginku, tapi sudah tak memungkinkan lagi berpendapat pada mimpi orang lain, aku terlalu mengoyak egoku untuk menjadi aku, sederhana saja aku ingin hidup selamanya untuk didengar, menjadi subjek yang pantas dilayani dgn pengorbanan sebentar saja, namun sudah tak mungkin lagi, aku hanya bisa hidup membuat dunia tersenyum sejenak, menawarkan secawan anggur memabukkan dan kembali meracuni diri sendiri perlahan, aku sudah berdamai dgn keriuhan luka dan aku sudah berdamai dgn kesunyian hati, tanpa dia, mereka, kamu, atau mungkin aku takan pernah pulang ke rumahku