Kamis, 02 April 2026
Ruang kreasi
tuhan selalu menyelamatkanku meski ku terjebak dalam lubang yang sangat gelap dan pekat, bertahun-tahun aku masih hidup dan bernapas dengan degupan jantung yang memacu kencang beradu dengan racun yang ku masukan dalam paru-paru menahun, rasanya ingin berhenti bergerak, membungkam semua anggota tubuh tanpa pengecualian saat semua mulai mensenja, kematian mental yang berkepanjangan membawa pengecut yang semakin membesar, arti dari ketiadaan ambisi dalam melakukan segala hal, seperti hidup dalam ketiadaan makna hidup, acap kali badan terenyuh dalam penyesalan berkali ia bangkit mencari makna mandiri, seakan otak ini bukan milik perubahan zaman, malah semakin mempertanyakan teknologi daripada ikut merayakan kemajuan modernisme, aku tak mempertanyakan cobaan yang mendera, tapi ada tangan tak kasat mata yang terus menghangati tiap kesalahan dan dosa yang terjadi, bukan hanya sekali aku memojokkan diri sendiri, bahkan zona nyaman bukanlah ruang kesenanganku dari dulu, andai aku menghargai waktu yang terbuang mungkin cerita akan berbeda, atau mungkin mewarisi ambisi yang kecil agar sedikit ego untuk pencapaian serta validasi, tapi sesungguhnya sekali lagi peranku selalu punya jalan sendiri, terakhir kali bermain dengan api' setelah terbakar lagi dia menyelamatkaknku kesekian kalinya, berusaha memadamkannya dengan caranya, cahaya yang tadinya ku anggap memang telah redup, dia mengusahakan nafas yang lebih bersih menggantikan tujuan yang baru, aku rela mengusik ketenangan dan istrahatku terganggu dengan projek ini, tanpa harap berspekulasi indah pada waktunya, tapi menikmati proses dari usaha yang sekecil mungkin, meskipun aku berdaya, entah melengkapi berbagai kemampuan ku rasuki dalam tubuh, tanpa makna yang jelas ku pelajari semua hal itu, ingatanku tentang kegagalan perlahan menjadi puzle teka teki yang mesti ku pecahkan sendiri dengan tangan kaca ku, aku selalu bertanya kenapa aku tak diistirahatkan, mengapa otak selalu berpikir dan berputar tanpa puas atau hidup nyaman dengan status dan ketenangan materi, malah mengkritisi tiap jejak sosial orang lain satu persatu, bukan maksud hati ingin mengguncang, sadarku tentang keterbatasan, tapi bagaimana membiarkan diri terus berkaya dengan jalan yang tua, setidaknya halte pemberhentian adalah kematian, selagi masih panjang perjalanan akan tetap ku buat sesuatu untuk menyingkap ruang pencapaian yang semu, melalui ini ku ikrarkan diri menulis dinding grafiti di kamar, bagi orang yang memandang akan menemukan arti yang sepadan apapun resikonya nanti, memulai saja biar nanti tuhan tetap putuskan kelayakannya,
Langganan:
Komentar (Atom)