Sabtu, 22 November 2025

Kebisuan

sebenarnya apa yang terjadi dalam kesekian malam, tiba-tiba sudah membisu, memang ada beberapa hal yang membuat kita bungkam, tapi apakah semua sudah selesai, atau harapan memang sudah memudar, sengaja ku mengjarak agar kita tidak keterlaluan tapi bukan membuatmu menjauh dan pergi, atau ceritakanlah keluh kesah itu agar terang semua tanya, bungkam bukanlah solusi malah timbul presepsi yang tidak bisa sama dengan ingin, sehina apa diriku ini tak ada cara lain lagi, sudah ku coba berusaha lupa tapi batin masih tak rela, setakut apakah dirimu sekarang, kalu memang berat bilang saja, gelisah ini berlanjut kesekian hari, biarlah wujudmu hanya di imajinasi tapi kabarmu dan apa yg ada di pikiranmu memang ku rindu, dan jujur aku akan kembali tapi tak mau sendiri, kamu tau sendiri Ku pernah di bungkam kenyataan di serang tanpa seorang membela apa kamu mau seperti mereka, atau memang kau anggap aku badut, yang datang menghiburmu kemudian pergi, aku masih bersikeras sebenarnya tapi aku takut kembali memperjuangkan sendirian. semalam mengobrol di seperempat malam, tidak panjang lebar hanya menyandarkan satu harapan, terkadang melelahkan berpikir dripada menjalani, mulai bercerita bagaimana asal untuk nanti bermuara, entah takdir itu seperti rencana atau memang ladang belajar, yg ku dengar dulu menuntut kemanusiaan untuk bisa berdikari, padahal ku dapati kita sekadar hamba memerlukan izin tuannya, memang merasa hebat berlari dari ombak yg satu kepada ombak yg lain hanya sinyal untuk ke tepi, terombang ambing harapan tak pasti, menanti pelabuhan kepulangan, maksudku apa memang kita yg terlalu mendrama atau hati kita yg selalu jauh, kesombongan hanya membuat lupa sebuah ketidakberdayaan, kita yg beda, kita yg tak sama apakah rupa bisa mengubah sedemikian, padahal selalu dgn isi yg sama hanya mungkin ada yg dominan, coba membuka, membaca namamu tetap satu tapi utk apa keberadaan yg berserakan di ketemukan kemudian intim, mengingat saja sangat berat apa lagi melupakan, semoga sembuh bagi yg tak waras, semoga tenang untuk ketidakpastian, rengkuhlah jiwa yg abadi dalam singgasana dan susana terharap

Minggu, 16 November 2025

Rumah

semua masih terperangkap di sini, bahkan waktu belum sanggup mengikikis semua romansa yang tak pernah terencanakan, dia masih mengalir sebagaimana mata air yang memancarkan kesejukan dalam tegukkan, jika ini memang tidak disengajakan, mungkin aku tetap terjebak dalam lara, walau pada akhirnya kita tetap duduk dalam nestapa, yang teryakini adalah perjuangan setelahnya, mengenangmu bukan hanya berusaha menepiskan bahagia, lebih dari sebuah cerita luka, tapi tekad yang menggebu untuk berbuat sesuatu, sebenarnya ku dapati syukur setelah semua hilang, merasakan kembali napas panjang untuk menulis kisah yang lama tertinggal di kepala, bermula dari mencari jawaban hati, bermuara dalam lautan ilmu yang semakin meluap, memerankan sosok yang sebenarnya sudah lama ditinggalkan, berpulang pada aku yang seharusnya, akan tetapi kamu bagaimana kabarnya, walau ku anggap sementara kamu sudah di tempat yang semestinya, terbebas dari luka masa lalu, atau kamu juga masih terjebak dengan rumah kita, memang sampai kini, aku masih berpeluh dengan halu, yang diciptakan oleh harapan yang terus pupus, atau keinginan yang tak ideal dengan ego, dan memang trauma yang tak pernah terobati, betapa kecil diri ini dari presepsi pesimis yang mengahantam batu besar dengan kepalan tangan yang mungil, menyisakan api lilin yang belum padam, berharap belas kasihan sang penguasa sekali lagi, meski berlumuran dengan karma dan dosa, nyambi perbaiki pola-pola keseharian perlahan satu demi satu dalam doa setelah mendoakan rumah untuk kita masing-masing, jika memang ini takdir, biarkan waktu mengatur ulang, seperti saat kita tak pernah tahu bagaimana awal kita berjumpa

Selasa, 04 November 2025

mestinya mereka mengerti

bukan perkara berkorban, bukan perkara menghitung, bukan juga perkara memberi dan menerima, tapi ini lebih dari sekedar alasan, ataupun bukan sudah saling mengenal, bahkan bukan karena ada niat saja, mungkin mereka berpikir cukup semua itu, sepahaman merasa itu harus, kalupun satu bagian saja maka tak akan bisa, pertunjukan perasaan saja itu juga bukan jawaban, kolaborasi antara merasa berpikir dan mencari tawa diantara perjalanan baik dan buruk yang selalu dirayakan bersama, maka boleh itu tercipta abadi, alam selalu dirusak, selalu juga disakiti, mungkin sedikit marah bukan karena menyakiti tapi memperingati, tapi selalu menawarkan kesejukan di setiap di butuhkan, begitu juga perjalanan waktu, mungkin kadang banyak menyakiti ataupun kesialan seolah menghantui, lagi dia tidak marah hanya memperingati, berminta maaf lah pada sungai, pada udara, pada awan langit, pada pepohonan, pada gunung, pada pantai, pada laut, karena mereka layak menggurui kita pada kehidupan, sedangkan alien seperti kita berperilaku invasi seakan merasa jumawa atas segalanya padahal tidak ada bedanya dalam perilaku menghargai dan menghormati, jika pesan ini berlanjut, akan sampai ujung arti yang sama, satu kata yang layak menjadi kekuatan inti, bagi mereka yang terus mencari dan berpikir, dia dekat di pelupuk mata, tapi tertutup tabir kebodohan dan ketakutan, lebih suka larut menjadi mainan, jika tak bisa ditemukan, bermula kehampaan, jika tak dihadirkan, bermula amarah, jika hanya dibayangkan, bermula kegilaan, jika hanya dipalsukan, bermula kesendirian, dia ada dekat dan lekat dalam kalbu, dia hadir dalam ketenangan, dia lah yang memulai bahagia, dia lah adalah awal dan akhir menanti di ketemukan

Minggu, 02 November 2025

perubahan

ku dengar kau sedang kembali mengenang masa lalumu, bermain dengan harapan semu yang semula hanya kagum, namun apakah dia pernah memperjuangkanmu, apakah dia pernah berkorban untukmu, semoga kamu tidak tertipu dengan rasa takutmu, sudah sekian kali kamu hanya memikirkan kepuasan matamu tapi tidak hatimu, perasaanmu tentang kesepian, ragamu yang butuh bukan sekedar pelukan hujan, tapi bahagia yang kamu coba gapai tapi dirampas kepanikan oleh drama orang lain, sejenak lupakan hantu masa lalu yang tak pernah usai, karena ku kira telah berikan hidup barumu, saatnya terbang ke dunia lain, temukan rumah barumu jangan kembali ke orang yang kecewa dengan rumah lama dan menyandarkan lelah pada baiknya bahumu, bangunlah dari mimpi lamamu, saatnya kamu mendapatkan kesempatan yang layak, membuka keran mata air harapan, berhentilah menatap jendela waktu dan terjebak dalam cermin yang sudah pecah, kamu itu special dan berbeda, masih ada orang baik yang lagi menunggumu di gelapnya malam, aku yakin itu, jika kau mau mencoba berpetualangan sekali lagi, puaskan ceritamu dengan getaran yang baru, letakan kertas dan pena kepalsuan mereka yang selalu kau coba mainkan tapi sebenarnya kamu yang selalu tersandera tentang humor membosankan, toh kamu belum bangun seutuhnya mencoba membuktikan lebih baik untuk apa, sedangkan mereka tak pernah mencoba mengerti hanya pura-pura menghibur, sudah jauh kau kirim perjalananmu jauh, lantas buat apa kamu senyum dengan duri ambisi yang belum pernah membuktikan diri untuk mati bersamamu, coba berpikir dan berperasaan atas cinta yang pernah diusahakan bukan cinta yang dibangun dalam istana khaylan namun terhina, masih panjang perjalanan yang sedang kau bangun, masih banyak waktu yang menunggu esok, bungkam semua suara yang tak pernah sedikit berpeluh dalam sakitmu, sambut cerita dan dunia yang kau kejar, untuk tumbuh menjadi ratu yang anggun menari cantik di bawah pelangi