Minggu, 16 November 2025
Rumah
semua masih terperangkap di sini, bahkan waktu belum sanggup mengikikis semua romansa yang tak pernah terencanakan, dia masih mengalir sebagaimana mata air yang memancarkan kesejukan dalam tegukkan, jika ini memang tidak disengajakan, mungkin aku tetap terjebak dalam lara, walau pada akhirnya kita tetap duduk dalam nestapa, yang teryakini adalah perjuangan setelahnya, mengenangmu bukan hanya berusaha menepiskan bahagia, lebih dari sebuah cerita luka, tapi tekad yang menggebu untuk berbuat sesuatu, sebenarnya ku dapati syukur setelah semua hilang, merasakan kembali napas panjang untuk menulis kisah yang lama tertinggal di kepala, bermula dari mencari jawaban hati, bermuara dalam lautan ilmu yang semakin meluap, memerankan sosok yang sebenarnya sudah lama ditinggalkan, berpulang pada aku yang seharusnya, akan tetapi kamu bagaimana kabarnya, walau ku anggap sementara kamu sudah di tempat yang semestinya, terbebas dari luka masa lalu, atau kamu juga masih terjebak dengan rumah kita, memang sampai kini, aku masih berpeluh dengan halu, yang diciptakan oleh harapan yang terus pupus, atau keinginan yang tak ideal dengan ego, dan memang trauma yang tak pernah terobati, betapa kecil diri ini dari presepsi pesimis yang mengahantam batu besar dengan kepalan tangan yang mungil, menyisakan api lilin yang belum padam, berharap belas kasihan sang penguasa sekali lagi, meski berlumuran dengan karma dan dosa, nyambi perbaiki pola-pola keseharian perlahan satu demi satu dalam doa setelah mendoakan rumah untuk kita masing-masing, jika memang ini takdir, biarkan waktu mengatur ulang, seperti saat kita tak pernah tahu bagaimana awal kita berjumpa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar