Minggu, 31 Mei 2026
Kebas
Terlahir di rumah yang berantakan diantara himpitan kekecewaan masa lalu atau meneruskan hidup dari puing-puing cinta kemunafikan, menerka arti senyuman panggilan nak, atau jadi tameng dari luka dan alasan mereka untuk bertahan, mereka terlihat baik" saja pada ujung senja memeluk perjuangan dam hikmah, bagaimana aku bisa menerjemahkan rasa sayang jika aku sungguh tak percaya bahkan pikiran tidak termodelkan rasa itu, rasa benci tumbuh menjadi pasrah, bakti bukanlah bukti tapi ketakutan akan mati, bahkan mereka percaya kita adalah cemara, taukah cemara itu telah tumbal oleh pasang air laut yang membawa lupa pada trauma yang sudah tertumpuk, mudah saja kalian menutupi diri dengan ambisi, bagaimana jika hidup tak terarah, kosong menggapai mimpi yang tak pernah berbentuk, bangkai ini telah membusuk dan kaku tak berkontrasi, memang ku pikul model yang terhidangkan makanan makna di dalam struktur, untuk apa dipelajari jika kenyataan memukul keras tanpa belaan, terus mereka berkata kamu enak dengan segala macamnya, apa yang ada di pikiranmu kamu adalah korban, pelaku dan saksi ahli di situasi yang sama, di depan hakim tanpa pembela bahkan penjelasan kesaksianmu tak patut diperdengarkan, kamu pulang dalam kesendirian memeluk kebenaran tapi tak ada yang menenangkanmu bahkan bersedia memberikan cahayanya, mungkin sejengkal jurang kamu akan lompati tapi tepat di bibir jurang berkata apa kamu menyerah, apa kau pencundang? yang kulihat adalah bukan takut pada kekalutan kerumitan drama, tapi akhir dari jauh perjalanan yang sudah kebas
Senin, 04 Mei 2026
Sudahlah ini tak biasa
Kebisingan akan kemajemukan kendaraan mengulang suara bisumu, menegakan aroma parfum abadi terselip pada lampu berbinar, pada jalanan beraksara bahasa pelarian di sekian malam, berputar di lorong-lorong yang mengobati sunyi hatimu, hingga kau hinggap di penawaran kisah yang mungkin tak ingin kau rajut, tak ada cara menghapus seketika ataupun mengubur mata yang terkontaminasi beribu alasan untuk hidup di tulisan pada buku harianmu, menyertai prosa menyerupai doa sertai langkah yang seakan menua tapi tak bisa binasa, segala hal yang telah kita lukis bukan irisan tinta yang terlihat pada rak-rak market tapi tinta darah merah yang mengalir di nadi-nadi, berdenyut bersama hembusan nafas, menahanku duduk berlama-lama pada pandangan yang sama, meski tak nyata lagi impian yang sudah kalut, tetap saja tubuhku terpaku pada dorongan untuk tetap bernyawa atas cerita semu, mungkin kegilaan ini tak bisa di ukur ataupun tak bisa kita terka, biarlah diceritakan oleh awan dan pohon rindang yang merekam pertaruhan kita, yang ku ingin dan yang ku kunci pada logika selalu tak sama, membiasakan diri pada lamunan atau berperangai normal dengan melodi lagu populer, tak pernah menyudahi beribu pertanyaan membabi buta mengahantam kesadaran, ketika mata menuntut untuk terbuka di pagi hari, warna tembok tetap meletakan prioritas memperjuangkan riwayat bayangan hitam yang tesemat diantara beribu tawaran yang akan menghantam pada hari itu juga, sudah tak peduli pada ketakutan, hanya berorientasi pada kekuatan moral yang belum terselesaikan yang belum kita sempat tamatkan
Langganan:
Postingan (Atom)