Sabtu, 06 Desember 2025
Untukmu
inikah yg di namakan perasaan itu, tak bisa kah dia menghilang begitu saja atau selama ini aku selalu menghindar dari realita, apa yg berbeda dari pendarahan yg sudah menahun ini dgn sakit yg dicipta trauma masa kecil, dia berlari kecil dalam pikiran berhari-hari, apakah memang rasa itu memang ada atau kita berdua yg berusaha mendustakan diri masing, katamu sedikit lagi berakhir, apa yg berakhir? bahkan rindu ini selalu merengkut malam, sudah beratus lagu dicipta belum buat ku percaya atau beribu cerita romansa, mengapa hadir dari rupamu gadis kecil, berdebar jantung menusuk ke dalam imajinasi tentangmu, berkali-kali menyesali juga takan cukup, katanya semua ini hanya mematikan rasionalitas, bahkan awalnya aku selalu memainkan rasionalitas daripada emosi, atau kata mereka perlahan terobati dan terganti, apa yg berubah, masih di sini di kurung bahasa memanggilmu pulang, gadis kecil di bangku belakang ketahuilah untuk memadamkan api kecil ini, sangat tidak mungkin, maka biarkanlah ia menyala saja dan membakar impian yg bagi mereka hanya rangkaian khayalan, bahkan untuk menvisualkan itu, hanya dapat tergambar dipelukan terakhir kita, hanya dapat terasa dalam sentuhan terakhir tanganmu di dahiku, aku menyangkal kita berpisah karena tak bisa dipisah, aku menyangkal kita berpura karena kita tidak sedang berpura, setelah melewati malam tanpa harapan, sekali lagi aku tak ingin berharap tapi aku akan bermain di dalamnya, entah muara itu banyak buaya, tak peduli aku termakan dan tenggelam, sekali lagi aku akan terjun dalam jurang hampa yg disebut ketidakmungkinan sampai benar-benar berhenti dalam batu putih bernama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar