Rabu, 24 Desember 2025
Hatta Hari ini
lidah dan bibir membeku di bawah ketapang sunyi pada pasir putih berserakan batu karang mati membisu, bunyi ombak menderu menyatu dengan kicauan burung camar bersahutan membumbui keluh, sejauh ini mencoba membuang sisa-sisa kenang, yang terjebak dalam amukan mesin kapal mengguncang lautan, masih seperti ikan bergaris-garis mengobrol di antara terumbu karang nan cantik, bebas mendayung sirip kemana arah ia tuju, sambil menciumi lumut dengan perlahan, menunggu kapan pulang sendiri atau kapan ia dipulangkan pancingan nelayan, bergumam pada keindahan lain di antara pandangan mata, mendengarkan obrolan orang asing tentang keluhan mereka tentang impian semu tanpa temu, aneh berapa kali dilalui mentari dan mendapati diri tertelan awan jingga lagi, gunung masih percaya takkan hilang pesona, itu sebabnya dia masih berdiri kokoh, diam tak bergeming tetap memberikan air meskipun tak hujan bertahun, menahan api dalam perut agar tak padam atau memeluk embun pagi sampai jelang menguap hilang, masa depan hanya memiliki satu jawaban pasti, dan hanya memiliki satu cara yang senada, jika semua itu sudah terpahami, takkan ada lagi khawatir, takkan ada lagi lapar, takkan ada lagi validasi, belajarlah tentang pelarian menuju dirimu yang terbuang di faham yang dimuliakan pada rumah berpenghuni senyuman, bukan bumi yang dijaga dalam kepalsuan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar