Rabu, 28 Januari 2026
dan kemudian
usang rusuk kiri retak, wujudnya luntur tak kasat mata, jika telah diketahui tapi tetap terjun, apakah harus berkata luka atau jebakan, takdir tak ada yang tahu, antara bertemu atau dipertemukan, gambaran keinginan yang selalu di tutup ragu, seperti tulisan angkasa melukis warna langit, apakah patut lukisan itu diperbenarkan atau disalahkan, jika yang ada sudah memang enak pandang, hanya saja semua berbeda kepala, kemudian apa bedanya rasa dan logika, jika benar atau jika nyaman, dalam mempertanyakan presepsi atau mempertanyakan hal yang sudah terjawab, lalu kemudian mereka berusaha menjawab dengan kembali berbohong, meretak dalam tipu daya logika ambigu, hanya puisi dan lagu menyampaikan teriakan rasa yang menjadi hiasan harapan, kembali aku semakin tak mengerti ketika mereka memberi alasan atas standar dan syarat, kembali mereka membual atas dasar rasa ragu yang sesungguhnya mereka tak pernah berani bahagia, ku pertaruhkan semua kali ini, untuk sekali lagi mempercayai tulisan sajak masa lalu, mengkombinasikan sederahananya bahagia masa kecil dalam wujud tubuh yang dewasa, perasaan akan ku tahan dalam sederhananya, sedangkan pendewasaan ku letakan dalam topeng materi sebagai tiket kamuflase, ku berbicara pada burung di sore ini agar merahasiakan semuanya, mungkin nanti ada yang mengerti ketenangan ini, di mana telah punah dengan desakan ekonomi mengontrol waktu mereka, ataupun pikiran feodal titipan penjajah mengeruk isi kenangan yang terus diwariskan, tak ada pilihan selain bersembunyi dalam semak keterasingan untuk menonton tayangan peran-peran kerakusan, dan di akhir cerita nanti berharap ada yang waras menyelamtkan diri dari permainan busuk akhir zaman
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar