Senin, 12 Januari 2026

Terlalu Ambigu

rada pelan merangkai kerinduan atas kasih, bercumbu dengan lamunan khayalan ambigu, mendoakan kisah lain di atas lembar tulisan mimpi semalam, sudah selesai dengan membenci luka, bersenandung pada harapan orang lain untuk tetap mencari dan memotivasi, meskipun jiwa terus tercerai berai waktu dan amigdala, bersandar pada bahagia dan senyuman wajah-wajah perintis, berkata larilah seliar-liarnya karena janji itu ada dan nyata, meskipun kita akan berdarah, percayalah orang yang bersama mendarah itu dikirim untuk merayakan luka di ujung peluhmu, rada pelan hembusan angin membisikan kesejukan, memenuhi ekspetasi tanpa terburu-buru, pelan proses itu memberikan jawaban seakan-seakan memaksa kembali pulang, apa yang tidak mungkin dari metafora puisi, bukankah suara itu keluar dari teriakan jiwa kala sepi, apa bedanya berbicara dalam diam dan berbicara dgn realita, taukah semua tetap tersampaikan, atas gelisah dan insomnia berlarut-larut, percuma saja merahasiakan doa jika tetap di dengar batin, terlalu mendarama diri ini dalam ketakutan yang sia-sia, mendorong diri dalam kesadaran ego semakin gelap, lalu berkata inilah Aku, Aku yg sedang berpura-pura atau Aku yg masih pengecut, siapa dirimu sebenarnya, apa yg kau butuh, atau kau hanya mencoba menumpuk memori untuk mengeraskan kepalamu, mari kita bicarakan lagi dalam bercangkir kopi, selesaikan pesan-pesan yg kau titip di awan, berlagak seolah-olah halu mengobrol sendirian, lipat selimutmu untuk melihat matahari pagi, dari sela-sela jendela cahaya oranye menyilaukan mata menatap hari esok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar