Selasa, 14 April 2026
Sial
sial lagi terpuruk dalam keraguan, mendapati hati yang sementara mati, melanjutkan imajinasi atau menjajaki nama baru kembali, masih ku rayakan luka dengan ambisi, membenci tiap aura sel kenangan yang terbang di sekitarku, memupuk cerita luka di goresan buku, beralasan di dengar lebih keras oleh rindu yang tak punya tuan, sial berhenti di kaca kamarku, terkurung frame memori senyuman, wajahmu hadir dalam kepulan asap atau lagu yang kita dengar bersama dulu, hidupku terobses ketulusan cintamu, kembali diriku mengkritisi sikapku sendiri, tiap jejak dan tiap kesombongan intelektual yang rapuh, melewatkan waktu yang ku tidak dihargai selayaknya, bahkan tuhan terus menghadirkan asa berkali, tetap membuatku menganggap semua tetap sampah, sial aku tersesat lagi, terpuruk dalam jiwa penolakan, menyalahkan diri sendiri sedari awal, mencoba lari untuk mengobati tapi tak pernah tersembuhkan, asumsi materi dan sendiri lebih menenangkan, padahal hanya tipu daya otak berusaha bertahan semu, tak ada salahnya mengemis hati kita, tak ada salahnya merespon berlebihan perayaan perasaan, toh kita juga tak pernah meminta untuk jatuh cinta pada makhluk yang terjadi begitu acak, ketahuilah cerita ini dipertemukan bukan kita yang berkeinginan, bahkan kita tak bisa mengendalikan ingin kita, kita hanya di suruh membaca dan belajar menginterpertasikan dengan pikir yang matang, bahkan sudah ada jawaban yang tersedia pada tanda dan tulisan, aku mengagumimu bukan karna aku mau itu, tapi aku diberikan rasa untuk terus kagum padamu, cuman aku saja tak bisa membaca tanda-tanda jadi baik, maka aku juga tak ingin pergi kemana-mana, hanya menunggu perintah selanjutnya dari langit, tapi yang sulit dalam cinta adalah merindukanmu tiap detik, rindu ini tak menyiksa tapi rindu menuntunku terus hidup, bahkan jika rindu hanya tersusun pada barisan file di amigdala yang kemudian tertimbun, bukan juga masalah dan itu normal, saya tahu lebih sakit membangun sesuatu dari pelarian takan pernah menyembuhkan, pada akhirnya biarkan peluru-peluru panas ingatan menembakiku, sampai nanti kita bertemu pada senja yang kita tunggu dulu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar