Senin, 04 Mei 2026
Sudahlah ini tak biasa
Kebisingan akan kemajemukan kendaraan mengulang suara bisumu, menegakan aroma parfum abadi terselip pada lampu berbinar, pada jalanan beraksara bahasa pelarian di sekian malam, berputar di lorong-lorong yang mengobati sunyi hatimu, hingga kau hinggap di penawaran kisah yang mungkin tak ingin kau rajut, tak ada cara menghapus seketika ataupun mengubur mata yang terkontaminasi beribu alasan untuk hidup di tulisan pada buku harianmu, menyertai prosa menyerupai doa sertai langkah yang seakan menua tapi tak bisa binasa, segala hal yang telah kita lukis bukan irisan tinta yang terlihat pada rak-rak market tapi tinta darah merah yang mengalir di nadi-nadi selalu berdenyut bersama hembusan nafas, menahanku duduk berlama-lama pada pandangan yang sama, meski tak nyata lagi impian yang sudah kalut, tetap saja tubuhku terpaku pada dorongan untuk tetap bernyawa atas cerita semu, mungkin kegilaan ini tak bisa di ukur ataupun tak bisa kita terka, biarlah diceritakan oleh awan dan pohon rindang yang merekam pertaruhan kita, yang ku ingin dan yang ku kunci pada logika selalu tak sama, membiasakan diri pada lamunan atau berperangai normal dengan melodi lagu populer, tak pernah menyudahi beribu pertanyaan membabi buta mengahantam kesadaran, ketika mata menuntut untuk terbuka di pagi hari, warna tembok tetap meletakan prioritas memperjuangkan riwayat bayangan hitam yang tesemat diantara beribu tawaran yang akan menghantam pada hari itu juga, sudah tak peduli pada ketakutan, hanya berorientasi pada kekuatan moral yang belum terselesaikan yang belum kita sempat tamatkan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar