Minggu, 28 Juni 2026

Ragamu

senyum sederhanamu bagian dari kebahagian ideal yg sering ku mimpikan, genggam hangat tanganmu bagian dari ketenangan yg ku titip pada ambisi rekayasa anganku, sempat membunuh semua prasangka baik dengan kepasarahan realitas, kemudian kenyataan menjawab sebaliknya dengan kepahitan, berpikir bahwa kepekaan tidak penting, kata-kata sastra seperti bualan, pertarungan hati seperti dongeng semenjana, terpenting itu isi bukan bumbu yg meperkaya rasa, kemudian terhenti di persimpangan relakan saja, aku bingung mengapa kita diberikan kuasa atas indra, panggung di mana lakon dimainkan wajah yg beda, kemudian dia si sialan itu berpura-pura lupa, menyembunyikan impian dalam bayang-bayang logaritma fana, memindahkan hormon dopamin pada pujian bukan pencapaian, taukah oksitosin kita masih melekat pada dinding neuron, tapi kau masih mengharap serotonin pada rasa aman, yang membuat ideal bukanlah mengisi kandungan ego pada layarmu, yang membuat tenang adalah membiarkanmu terbaring tenang di atas tangan bukan punyamu sendiri, aneh banyak menganggap mengisi ruang kosong artinya menyibukan diri, mengisi rasa bosan dengan mengakses wacana bukan rencana, jadi tangan mana yang kau pilih? yang sering mengakses pujian atau kah yang merencanakan masa depan, dan mereka sering berkata kau begitu bodoh dalam lingkaran kategori ataupun mereka mengira kita berhak memilih jiwa yang berpasang, sedangkan di dunia yang lain berkata bahwa ada yang saling menarik dan ada juga yang saling menolak, bagaimanapun juga merelakan bukanlah opsi tapi rangkulah percaya walau sesak dihakimi, bukankah pulang ke rumah adalah kerinduan kita selama ini, bukan tentang rumah belaiu ataupun rumah yg disediakan tapi rumah yang kita bangun bersama

Rabu, 17 Juni 2026

Mengulang

tiap perjalanan sudah menimbun jejak-jejak kosong antara kenangan yang tua, keheningan menawarkan ketidakberdayaan kuasa, tetap bertahan meskipun meleleh dikuras usia, bagai kiasan lukisan lumut di tembok sembab, basah menahan dingin air hujan menguap, aku tersenyum menahan air mata keraguan, mengalir deras berbalik arah menusuk dada, mungkin saja takut keluar karena malu, akan tampak konyol basahi pipi yang karatan, ku dengarkan lagi ocehan doa malam, setiap diperdengarkan pada ratapan lantai hitam, bermula esok bisa berpendapat selalu ada harapan semu, walaupun tetap terbantahkan kabar yang belum juga terang, aku tau dia belum juga lelah, aku juga sungguh demikian, yang pasti selesaikan dulu satu persatu pertarunganku, tak usah berprasangka buruk, toh banyak yang sudah terselesaikan oleh beliau, meskipun menit dan jam berdetak kencang, mendekati hitungan mundur waktu jam pasir, kita yang sama tak didengar, meski berteriak keras di puncak amplitudo, kemudian berpura-pura di balik topeng ambisi, beramjinasi liar tentang raga, melupakan hangatnya rasa pelukan, demi menyembunyikan kebutuhan jiwa dengan mencoba memberikan asupan pada mata yang mulai minus, bahkan membungkam telinga dengan irama yang meremukkan dada, bahkan bekas hawamu tak sedetikpun hilang, setetes asamu tetap merasuki rencana, meski potret sejarah memudar larut di udara, semoga gengsi kita akan hilang di perjumpaan selanjutnya,