Rabu, 17 Juni 2026

Mengulang

tiap perjalanan sudah menimbun jejak-jejak kosong antara kenangan yang tua, keheningan menawarkan ketidakberdayaan kuasa, tetap bertahan meskipun meleleh dikuras usia, bagai kiasan lukisan lumut di tembok sembab, basah menahan dingin air hujan menguap, aku tersenyum menahan air mata keraguan, mengalir deras berbalik arah menusuk dada, mungkin saja takut keluar karena malu, akan tampak konyol basahi pipi yang karatan, ku dengarkan lagi ocehan doa malam, setiap diperdengarkan pada ratapan lantai hitam, bermula esok bisa berpendapat selalu ada harapan semu, walaupun tetap terbantahkan kabar yang belum juga terang, aku tau dia belum juga lelah, aku juga sungguh demikian, yang pasti selesaikan dulu satu persatu pertarunganku, tak usah berprasangka buruk, toh banyak yang sudah terselesaikan oleh beliau, meskipun menit dan jam berdetak kencang, mendekati hitungan mundur waktu jam pasir, kita yang sama tak didengar, meski berteriak keras di puncak amplitudo, kemudian berpura-pura di balik topeng ambisi, beramjinasi liar tentang raga, melupakan hangatnya rasa pelukan, demi menyembunyikan kebutuhan jiwa dengan mencoba memberikan asupan pada mata yang mulai minus, bahkan membungkam telinga dengan irama yang meremukkan dada, bahkan bekas hawamu tak sedetikpun hilang, setetes asamu tetap merasuki rencana, meski potret sejarah memudar larut di udara, semoga gengsi kita akan hilang di perjumpaan selanjutnya,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar