Senin, 02 Maret 2026

Mengatraksikan Keadaan

Tak ada yang ku tempat tertuju adalah persinggahan langit, tak ada tempat terindah selain laut, ku dengar mereka pernah bersatu lalu terpisah, ku lihat itu dari atas puncak gunung, di mana mereka sama oleh jejak warna, saling mengasingkan antara rindu tanpa pertemuan, lucunya mereka menyuarakan kasat rasa oleh air, lahirlah lukisan awan mencipta bahasa berpeluh, yang pada akhirnya saling bertukar cerita lewat hujan, lalu ku upayakan berseloroh dalam doa, menetapkan arah capaian ide, tanpa memerlukan sebab, tanpa memakai ambisi ego, menyandarkan takdir di skema pertarungan, aku tak ingin melangkahi jejak ilahi, slama ini mempertaruhkan insting yang di belenggu bisikan angin berhembus, kemarin menyandarkan pasrah, membuat pola ikhlas di dimensi muak, seolah-olah memperalat diri sendiri sebagai pecundang, mencoba tersenyum pada rekayasa penyangkalan, menuntun langkah ragu-ragu, pada kiasan sajak pujangga menghidupi lilin di hati yang asing ku mendaramakan kosombongan diantara paham, seakan dapat menembak kalam takdir, mendesain tiap kerangka frame aksi, seolah-olah mendefenisikan sutradara di atas segala Padahal pojok kamar ini masih berhantu, menjerit kesakitan saat peluh, tertawa dengan coretan pena yang beradu realita dan abstraksi, beratraksi pada seni membunuh karakter diri sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar