Rabu, 11 Maret 2026

Menyuarakan Juang

akankah berserah menatap usang, dalam keteduhan air pasang, mencoba mengais sisa jasad antrhopoda, menghimpun tenaga di titik surut yang kembali mengering, mencoba tersadar dalam bisu, menyimpan logaritma bahasa kalbu, beradu antara percaya dan ragu, diantara keluh dalam tiap doa semesta, mengahalau nestapa yang terus mendera, dengan kesekian gelap ruang kamar, berdiri di peraduan ambisi, mempetakan perjalanan di tiap kemungkinan pikiran, mempertaruhkan sebuah nama atas cita, dalam pijakan kepasrahan takdir, dibalut kerumitan keyakinan pendalaman peran, mempelajari pesan dalam tanda-tanda kesempatan, belumlah kalah di setiap nafas tersisa, belumlah usai di mata terbuka dari pagi ke pagi, kami adalah sekelompok pemain yang menjalankan skema perintah, dipaksa berliterasi agar langkah tak mudah tergoyah, mendayakan kreativitas menerjemahkan akasara, mana mungkin mimpi besar lahir dari kepayahan yang kecil, sepatutnya rasakan dan rayakan keterasingan lebih baik daripada menikmati kesementaraan arti, tetaplah menyederhanakan ingin untuk menunjujung kemewahan angkasa, tetap memenuhi isi logika di satu kebenaran dan keberanian petarung, tanpa rasa takut dan cemas pada gambaran yang transparan, dalam menghinakan diri di ketidakberdayaan yang tidak jelas dinamikanya, tetaplah berspekulasi mengusahakan eksistensi di bingkai kebebasan memanfaatkan yang telah di titipkan sampai usai tugas benar-benar terhenti oleh waktu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar