Senin, 30 Maret 2026

Janji dan Mimpi

janji atau impian, malam itu membungkus janji dan mimpi, barulah rencana terpatri dalam hati, bukan janjinya tak terpenuhi, tapi usaha mencapainya belumlah baik, atau dia yang takut berjanji, taukah mimpi dapat bermula dengan kata janji, aku berjanji membahagiakanmu karena aku bermimpi dapat bahagia denganmu, Alkisah nelayan yang berjanji menghidupi rumah dengan mimpi besok ada seember ikan yang dibawa pulang, tapi janjinya bukan hanya kata, tapi perjalanan liar dalam badai ombak ketidak pastian, sebenarnya dia tak berharap untuk rumah itu menanggapi janjinya, hanya sebuah perilaku diam dan senyum yang tak bergeser prasangka, sambil berdoa mengaharap mimpi ini di bawa pulang, sederhananya sejak kapan rumah itu bisa bermutasi, atau rumah itu menganggap dengan berspekulasi dapat menambal keraguan nelayan, tentu saja tidak, karena nelayan sudah kenal rumah itu, bukan karena ingin merenovasi keraguan, tapi sedari awal rumah itu sudah ideal desainnya, hal yang ditakuti nelayan ketika pulang tanpa rumah, mimpinya ikut musnah karena tak memiliki wadah, begitulah janji tentang ikan ikut membusuk dimakan bakteri-bakteri udara, tapi mengapa aku akan terus berjanji, karena ku tahu, tak ada orang yang bermimpi untukmu, yang kau tahu kau acap kali bermimpi sendiri, terlihat di mata coklatmu yang perlahan mencekung, maka janjiku adalah impianmu' dan tetaplah di tempatmu bermula, dengan mimpi yang sama, saat semula telah kita bicarakan di bibir-bibir yang pernah beradu, biarkan karang-karang tajam itu menusukku lebih dulu, biarkan dingin air membasahiku dahulu, pastikan saja rumah kita terwadah mimpi kita kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar