Kamis, 06 Agustus 2026
Dingin
begitu dingin pagi ini, coba mengeluh pada buluk kuduku, menghalau kabur panas pagi, tuk sebentar lagi mengimuni tubuhku, selimut ku tarik erat kembali, mendekapku dalam lelap mimpi yg belum selesai, perangkap imajinasi tentang harap dan perasaan tak menular, betapa penatnya dunia, yang di isi keinginan yg bertabrakan ego yg berubah idealis, asupan gizi pada laparnya nafsu yg abadi, timbul tenggelam separangan dan berubah-ubah, aku ingin kembali tidur walau sesulit mata yg tak selesai mengedip, kembali ku ke deretan memori paling sunyi, kutemukan berkas-berkas yg tertimbun realita, bahwa aku masih berpeluh akan waktu yg disia-siakan, pada malam-malam yang ku usahakan tetap terjaga, berpikir lagi, merenungi lagi, dan terjebak lagi, usang sudah tubuhku di biarkan membusuk, sesungghnya sudah tak peduli lagi, lalu datang lagi suara kebetulan yang sebetulnya apakah memang tak ada namanya kebetulan, mengeritkan dahi seusai berkata kalau itu ada, kalau itu memang benar adanya, aneh anggap saja diriku boneka, hanya saja mempunyai jiwa, di mana garis akhirnya, atau tak pernah ada awal dan akhir, melewati tangga-tangga yg disambut gerbang bernama ujian, jika belum lulus dibiarkan tinggal sebentar dan jika lulus di loloskan ke tahap berikutnya, beragam wajah yang ku pandangi memancarkan seni, memainkan ekspresi yang kemudian tertebak sendiri, buat apa aku datang memperingati, sedangkan aku selalu memandangi wajahku yang tampak mengerikan, sampai saat tubuh melemah, kembali lagi di mimpi yang tampaknya masih berlanjut
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar