Jumat, 14 Agustus 2026

Halte

tampaknya mereka takut kehilangan, saking takutnya mereka membenci dirinya, terus bagaimana kehilangan perasaan itu hilang, bahkan merasakan kehilangan sebelum semua menghilang, tampaknya bagaimana jika hilang itu sudah menjadi hal biasa, mereka akan berdoa berharap di pertemukan, merindukan hal yang hilang dalam dirinya, sedangkan aku tak tahu mengekspresikan hilang itu, bahkan aku bisa bernyanyi antara kosongnya jiwa, memuja mereka yang pernah merasakan kehilangan, merasakan iri pada mereka yang sedang berjuang dengan rasa kehilangan, apakah aku yang takut kehilangan, tapi sepertinya hilang itu sudah tak menarik, bahkan hilang itu sudah jadi bagian kenyataanku, apa yang bisa menggantikan bagi yang hilang, bagiku hanya barisan memori yang dieleminasi satu persatu, bagaikan halte yang kehilangan penumpang, dan aku masih yang tertinggal di halte itu, menyambut penumpang dan mengantarkan dia pada pemberhentian selanjutnya, mereka berkata tak apa kami akan mendoakan bis mu kan datang, dan sebaliknya akulah yang mengantarkan mereka, dan tak pernah doa mereka terjabah sesuai kata-kata mereka, kata terima kasih sudah terlalu penuh ku tampung dalam renung, bahkan setiap apresiasi menambah luka bekas peperangan meyakinkan mereka tetap percaya, tak apalah sekali lagi bagiku terbiasa kehilangan, demi keyakinan mereka untuk terus hidup, menemukan keinginan mereka selanjutnya, walau aku akan tetap berpura-pura menjadi manusia sempurna di mata penumpang yang bergantian datang, meminta peta petunjuk pada rumah ideal dari orang yang tak memiliki rumah sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar