Senin, 17 Agustus 2026
MailToMe
Akhir akhir ini aku merasa ingin mengakhiri diri sendiri, kombinasi antara hati dan pikiranku sudah tak sinkron seperti biasanya, bahkan aku tak bisa bedakan manakah yang katanya berpikir dan manakah yang disebut kata hati, keduanya seperti alogritma tik tok yang sering beradu antara delusi dan ilusi, berbisik dan berdebat dalam penjara nalar, aku berharap bisa kembali ke masa kecilku, saat imajinasi masih lepas kendali, pada lukisan di tembok atau bermain dgn teman khayalan, menyerderhanakan bahagia melalui petualangan kecil, kombinasi antara gerak tubuh dan otak yang saling berkerjasama, lalu muncul yg namanya dunia lain, dunia asing yang katanya maya dianggap nyata, berupa pameran informasi akbar yang katanya diprivasi tapi terharap di notice, aku dimodelkan agar memenuhi syarat pujian, bahkan ada yg teraliansi untuk bisa benar, benar berarti banyak, salah berarti sedikit, setelah itu mereka membiarkanku memenuhi standar-standar yang belum aku pahami, tak ada salah dgn teknologi, bukankah lampu bisa memberikan cahaya, tapi mengapa kita selalu berjalan mundur, melabelkan romansa masa lalu yg tak bisa berulang, bukankah kita masih bisa membuat perahu mainan dari gaba-gaba, atau hutan kita sudah dihabisi, aku mulai pasrah, diriku terkekang antara harapan org lain atau cita-cita sang pesakitan yang ambisinya gagal berpuluh tahun yang lalu, aku mulai menyembunyikan diriku lebih dalam, menggenggam bom waktu yang disebut pendewasaan, tapi mulai dari mana, dari delusi yang implusif, atau ilusi yang fiksi, kenyataannya, ada tagihan bulanan, uang mahar pernikahan, pakaian mahal, cicilan, gaya hidup, hobi, bahkan makan sehari-hari, berputar dan menghantui kalkulasi matematisku, aku takut dan mencemaskan warasku, menurut mereka generasi melemah, menurut negara generasi emas, kita manusia yg sama bukan, di sela penat ku rebahkan tubuhku di bawah fly over kota, di lorong sempit itu ku lihat ada manusia kecil yg sedang asik dengan kardus dan beberapa temannya, di manakah org tuanya, bagaimana mereka makan, bagaimana mereka bisa lewati hari-hari yg begitu berat, sepertinya ini bukan tentang aku, bukan juga tentang mereka, bukan juga tentang kita, ku urungkan kembali niatku, diriku begitu pengecut menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain, jika aku sendiri tidak tahu siapa aku?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar