Rabu, 24 Desember 2025

Hatta Hari ini

lidah dan bibir membeku di bawah ketapang sunyi pada pasir putih berserakan batu karang mati membisu, bunyi ombak menderu menyatu dengan kicauan burung camar bersahutan membumbui keluh, sejauh ini mencoba membuang sisa-sisa kenang, yang terjebak dalam amukan mesin kapal mengguncang lautan, masih seperti ikan bergaris-garis mengobrol di antara terumbu karang nan cantik, bebas mendayung sirip kemana arah ia tuju, sambil menciumi lumut dengan perlahan, menunggu kapan pulang sendiri atau kapan ia dipulangkan pancingan nelayan, bergumam pada keindahan lain di antara pandangan mata, mendengarkan obrolan orang asing tentang keluhan mereka tentang impian semu tanpa temu, aneh berapa kali dilalui mentari dan mendapati diri tertelan awan jingga lagi, gunung masih percaya takkan hilang pesona, itu sebabnya dia masih berdiri kokoh, diam tak bergeming tetap memberikan air meskipun tak hujan bertahun, menahan api dalam perut agar tak padam atau memeluk embun pagi sampai jelang menguap hilang, masa depan hanya memiliki satu jawaban pasti, dan hanya memiliki satu cara yang senada, jika semua itu sudah terpahami, takkan ada lagi khawatir, takkan ada lagi lapar, takkan ada lagi validasi, belajarlah tentang pelarian menuju dirimu yang terbuang di faham yang dimuliakan pada rumah berpenghuni senyuman, bukan bumi yang dijaga dalam kepalsuan

Rabu, 10 Desember 2025

That Day

Ingin ku kirim berjuta bunga, hari di mana diciptakan keindahan dunia, hari di mana pelajaran tentang cinta itu dihadirkan, hari di mana membuatku tersadar bahwa ada harta yg tak bisa kita genggam, menjawab peluh ku di sore kemudian nyata dalam realita, saat sepasang burung mengingatkan kita terlahir seperti rangkaian untuk membuat kita bertahan, kita terlahir sebagai sebuah koneksi untuk saling mengenal, bukan sekedar membebani tapi mengingatkan, di kejauhan terselip rindu memegang senyum kecil diantara kata, sepertinya kata selesai menjadi fiksi, karena ini juga belum akhir yg ku tahu ini perhentian sementara, sementara kita berlayar lagi di gelombang dan arus perpisahan menuju esok pagi dalam riuh riang orang-orang imitasi, kadang keraguan akan membuat kita terfatamorgana, tapi keyakinan juga mengakibatkan kebencian, karena yang dicari adalah kesamaan peluh tanpa keluh, selanjutnya pelayaran panjang di pintu depan sedang menyambut kita, berusaha lari dari tingginya gunung dan dalam lautan, seakan mengejar diri sendiri padahal hanya mengejar hal yang sama dengan mereka, maka ku genggam erat kata tinggal untuk tetap bisa mengenang, meskipun sudah tidak mungkin bermuara, ku gengam kata bertahan, meskipun sudah hancur berantakan, dan hari ini kusampaikan angan-angan liar yang terpahat pada jaringn syaraf memory membunuh logika perasaan menolak berbohong untuk tak behenti berkata nafas panjang ini masih sama terapung terombang ambing tanya memastikan koneksi tak terputus

Sabtu, 06 Desember 2025

Untukmu

inikah yg di namakan perasaan itu, tak bisa kah dia menghilang begitu saja atau selama ini aku selalu menghindar dari realita, apa yg berbeda dari pendarahan yg sudah menahun ini dgn sakit yg dicipta trauma masa kecil, dia berlari kecil dalam pikiran berhari-hari, apakah memang rasa itu memang ada atau kita berdua yg berusaha mendustakan diri masing, katamu sedikit lagi berakhir, apa yg berakhir? bahkan rindu ini selalu merengkut malam, sudah beratus lagu dicipta belum buat ku percaya atau beribu cerita romansa, mengapa hadir dari rupamu gadis kecil, berdebar jantung menusuk ke dalam imajinasi tentangmu, berkali-kali menyesali juga takan cukup, katanya semua ini hanya mematikan rasionalitas, bahkan awalnya aku selalu memainkan rasionalitas daripada emosi, atau kata mereka perlahan terobati dan terganti, apa yg berubah, masih di sini di kurung bahasa memanggilmu pulang, gadis kecil di bangku belakang ketahuilah untuk memadamkan api kecil ini, sangat tidak mungkin, maka biarkanlah ia menyala saja dan membakar impian yg bagi mereka hanya rangkaian khayalan, bahkan untuk menvisualkan itu, hanya dapat tergambar dipelukan terakhir kita, hanya dapat terasa dalam sentuhan terakhir tanganmu di dahiku, aku menyangkal kita berpisah karena tak bisa dipisah, aku menyangkal kita berpura karena kita tidak sedang berpura, setelah melewati malam tanpa harapan, sekali lagi aku tak ingin berharap tapi aku akan bermain di dalamnya, entah muara itu banyak buaya, tak peduli aku termakan dan tenggelam, sekali lagi aku akan terjun dalam jurang hampa yg disebut ketidakmungkinan sampai benar-benar berhenti dalam batu putih bernama

Sabtu, 22 November 2025

Kebisuan

sebenarnya apa yang terjadi dalam kesekian malam, tiba-tiba sudah membisu, memang ada beberapa hal yang membuat kita bungkam, tapi apakah semua sudah selesai, atau harapan memang sudah memudar, sengaja ku mengjarak agar kita tidak keterlaluan tapi bukan membuatmu menjauh dan pergi, atau ceritakanlah keluh kesah itu agar terang semua tanya, bungkam bukanlah solusi malah timbul presepsi yang tidak bisa sama dengan ingin, sehina apa diriku ini tak ada cara lain lagi, sudah ku coba berusaha lupa tapi batin masih tak rela, setakut apakah dirimu sekarang, kalu memang berat bilang saja, gelisah ini berlanjut kesekian hari, biarlah wujudmu hanya di imajinasi tapi kabarmu dan apa yg ada di pikiranmu memang ku rindu, dan jujur aku akan kembali tapi tak mau sendiri, kamu tau sendiri Ku pernah di bungkam kenyataan di serang tanpa seorang membela apa kamu mau seperti mereka, atau memang kau anggap aku badut, yang datang menghiburmu kemudian pergi, aku masih bersikeras sebenarnya tapi aku takut kembali memperjuangkan sendirian. semalam mengobrol di seperempat malam, tidak panjang lebar hanya menyandarkan satu harapan, terkadang melelahkan berpikir dripada menjalani, mulai bercerita bagaimana asal untuk nanti bermuara, entah takdir itu seperti rencana atau memang ladang belajar, yg ku dengar dulu menuntut kemanusiaan untuk bisa berdikari, padahal ku dapati kita sekadar hamba memerlukan izin tuannya, memang merasa hebat berlari dari ombak yg satu kepada ombak yg lain hanya sinyal untuk ke tepi, terombang ambing harapan tak pasti, menanti pelabuhan kepulangan, maksudku apa memang kita yg terlalu mendrama atau hati kita yg selalu jauh, kesombongan hanya membuat lupa sebuah ketidakberdayaan, kita yg beda, kita yg tak sama apakah rupa bisa mengubah sedemikian, padahal selalu dgn isi yg sama hanya mungkin ada yg dominan, coba membuka, membaca namamu tetap satu tapi utk apa keberadaan yg berserakan di ketemukan kemudian intim, mengingat saja sangat berat apa lagi melupakan, semoga sembuh bagi yg tak waras, semoga tenang untuk ketidakpastian, rengkuhlah jiwa yg abadi dalam singgasana dan susana terharap

Minggu, 16 November 2025

Rumah

semua masih terperangkap di sini, bahkan waktu belum sanggup mengikikis semua romansa yang tak pernah terencanakan, dia masih mengalir sebagaimana mata air yang memancarkan kesejukan dalam tegukkan, jika ini memang tidak disengajakan, mungkin aku tetap terjebak dalam lara, walau pada akhirnya kita tetap duduk dalam nestapa, yang teryakini adalah perjuangan setelahnya, mengenangmu bukan hanya berusaha menepiskan bahagia, lebih dari sebuah cerita luka, tapi tekad yang menggebu untuk berbuat sesuatu, sebenarnya ku dapati syukur setelah semua hilang, merasakan kembali napas panjang untuk menulis kisah yang lama tertinggal di kepala, bermula dari mencari jawaban hati, bermuara dalam lautan ilmu yang semakin meluap, memerankan sosok yang sebenarnya sudah lama ditinggalkan, berpulang pada aku yang seharusnya, akan tetapi kamu bagaimana kabarnya, walau ku anggap sementara kamu sudah di tempat yang semestinya, terbebas dari luka masa lalu, atau kamu juga masih terjebak dengan rumah kita, memang sampai kini, aku masih berpeluh dengan halu, yang diciptakan oleh harapan yang terus pupus, atau keinginan yang tak ideal dengan ego, dan memang trauma yang tak pernah terobati, betapa kecil diri ini dari presepsi pesimis yang mengahantam batu besar dengan kepalan tangan yang mungil, menyisakan api lilin yang belum padam, berharap belas kasihan sang penguasa sekali lagi, meski berlumuran dengan karma dan dosa, nyambi perbaiki pola-pola keseharian perlahan satu demi satu dalam doa setelah mendoakan rumah untuk kita masing-masing, jika memang ini takdir, biarkan waktu mengatur ulang, seperti saat kita tak pernah tahu bagaimana awal kita berjumpa

Selasa, 04 November 2025

mestinya mereka mengerti

bukan perkara berkorban, bukan perkara menghitung, bukan juga perkara memberi dan menerima, tapi ini lebih dari sekedar alasan, ataupun bukan sudah saling mengenal, bahkan bukan karena ada niat saja, mungkin mereka berpikir cukup semua itu, sepahaman merasa itu harus, kalupun satu bagian saja maka tak akan bisa, pertunjukan perasaan saja itu juga bukan jawaban, kolaborasi antara merasa berpikir dan mencari tawa diantara perjalanan baik dan buruk yang selalu dirayakan bersama, maka boleh itu tercipta abadi, alam selalu dirusak, selalu juga disakiti, mungkin sedikit marah bukan karena menyakiti tapi memperingati, tapi selalu menawarkan kesejukan di setiap di butuhkan, begitu juga perjalanan waktu, mungkin kadang banyak menyakiti ataupun kesialan seolah menghantui, lagi dia tidak marah hanya memperingati, berminta maaf lah pada sungai, pada udara, pada awan langit, pada pepohonan, pada gunung, pada pantai, pada laut, karena mereka layak menggurui kita pada kehidupan, sedangkan alien seperti kita berperilaku invasi seakan merasa jumawa atas segalanya padahal tidak ada bedanya dalam perilaku menghargai dan menghormati, jika pesan ini berlanjut, akan sampai ujung arti yang sama, satu kata yang layak menjadi kekuatan inti, bagi mereka yang terus mencari dan berpikir, dia dekat di pelupuk mata, tapi tertutup tabir kebodohan dan ketakutan, lebih suka larut menjadi mainan, jika tak bisa ditemukan, bermula kehampaan, jika tak dihadirkan, bermula amarah, jika hanya dibayangkan, bermula kegilaan, jika hanya dipalsukan, bermula kesendirian, dia ada dekat dan lekat dalam kalbu, dia hadir dalam ketenangan, dia lah yang memulai bahagia, dia lah adalah awal dan akhir menanti di ketemukan

Minggu, 02 November 2025

perubahan

ku dengar kau sedang kembali mengenang masa lalumu, bermain dengan harapan semu yang semula hanya kagum, namun apakah dia pernah memperjuangkanmu, apakah dia pernah berkorban untukmu, semoga kamu tidak tertipu dengan rasa takutmu, sudah sekian kali kamu hanya memikirkan kepuasan matamu tapi tidak hatimu, perasaanmu tentang kesepian, ragamu yang butuh bukan sekedar pelukan hujan, tapi bahagia yang kamu coba gapai tapi dirampas kepanikan oleh drama orang lain, sejenak lupakan hantu masa lalu yang tak pernah usai, karena ku kira telah berikan hidup barumu, saatnya terbang ke dunia lain, temukan rumah barumu jangan kembali ke orang yang kecewa dengan rumah lama dan menyandarkan lelah pada baiknya bahumu, bangunlah dari mimpi lamamu, saatnya kamu mendapatkan kesempatan yang layak, membuka keran mata air harapan, berhentilah menatap jendela waktu dan terjebak dalam cermin yang sudah pecah, kamu itu special dan berbeda, masih ada orang baik yang lagi menunggumu di gelapnya malam, aku yakin itu, jika kau mau mencoba berpetualangan sekali lagi, puaskan ceritamu dengan getaran yang baru, letakan kertas dan pena kepalsuan mereka yang selalu kau coba mainkan tapi sebenarnya kamu yang selalu tersandera tentang humor membosankan, toh kamu belum bangun seutuhnya mencoba membuktikan lebih baik untuk apa, sedangkan mereka tak pernah mencoba mengerti hanya pura-pura menghibur, sudah jauh kau kirim perjalananmu jauh, lantas buat apa kamu senyum dengan duri ambisi yang belum pernah membuktikan diri untuk mati bersamamu, coba berpikir dan berperasaan atas cinta yang pernah diusahakan bukan cinta yang dibangun dalam istana khaylan namun terhina, masih panjang perjalanan yang sedang kau bangun, masih banyak waktu yang menunggu esok, bungkam semua suara yang tak pernah sedikit berpeluh dalam sakitmu, sambut cerita dan dunia yang kau kejar, untuk tumbuh menjadi ratu yang anggun menari cantik di bawah pelangi

Kamis, 23 Oktober 2025

Memaknai Jalan Panjang

selama tiga tahun bersama, banyak hal pelajaran yg aku dapat bersama kalian, jujur kehancuran hidupku bermula ketika sukses yang sedang kalian kejar saat ini, sebelumnya aku hanyalah pedagang biasa, pemuda yg berasal dari jalanan, belajar lewat jalanan yg bertapak-tapak ku jejaki sendiri, berpindah-pindah pekerjaan, berpindah-pindah tempat tinggal dan sampailah pada masa putus asa untuk bisa berbakti pada orang tua, kebencianku akan rumah sudah di mulai sejak ku kecil sebenarnya, kenyamananku saat aku tinggal bersama orang yg bukan keluargaku, mereka selalu menyambutku dengan tangan kasih sayang, tapi tuhan selalu mempunyai cara yang lain untuk menunjukkan jalan pulang, mungkin kalian mengira aku org normal, padahal aku sendiri ingin bunuh diri ketika semua usahaku sia-sia, lagi yang menyelamatku adalah kesadaran berpikir dan merasa serta kebaikan tuhan dalam mencinta, betapa rumit ku menjelaskan hari-hari depresi setelah pulang berperang di tanah orang, mengalami kehancuran kembali dalam pencarian jati diri, tanpa peduli tentang apa yang di nanti, kau memberikan harapan untuk tetap berubah, mengejar mimpi dalam mengenal tuhan, sesudah kalian pergi...yang tertinggal sepenggal pesan hati-hati sekedar mendoakan kebahagiaan sejati, bukan merekayasa dongeng tidur untuk mengobati penat lewat mimpi, ketahuilah dunia ini sudah semakin palsu menuju kehancurannya, sisa-sisa suara yang kalian ucapkan masih tertinggal, ku jadikan puzle sepotong demi sepotong menyusun jawaban kebersamaanku dalam fungsi makna apa yang nanti akan ku buat selanjutnya, saat ini aku masih menolak keberadaanku di sini, bahkan masih bukan aku di sini, ini hanya pijakan sementara menuju semesta yang lain, lucu kalian menuduhku guru padahal aku tak pernah merasa begitu, aku tetaplah sebongkah daging yang lahir dari jalanan sepi, aku si manusia bebas terbang ke mana saja angin terhempas, tetapi aku butuh belajar, butuh ide yang sehat menjelaskan makna dalam bungkam, dan tuhan tahu itu apa masalahku, apa takdirku, dan kematianku, tinggal ku serahkan saja dengan doa dan proses yang ku hadapi hari demi hari, waktu demi waktu, masa demi masa, ku ucapkan terima kasih untuk segalanya, ku telah rangkum makna membaca tanda-tanda alam, membawa arah impian sang penjelajah waktu, pahamku tak pernah mati, malah selalu haus dalam keingintahuan, mereka tak pernah bisa membungkam waktu, mereka hanya pijakan untuk belajar seperti kalian adalah pijakan belajarku dalam bereksperimen dengan hantu, tanpa kesadaran ku menulis pesan bersyukur bertemu kalian, dan kita akan bertemu lagi di lain waktu, aku akan menceritakan terus kisah hidupku meskipun tak ada yang membacanya, karena tak mampu ku tampung semua dalam ingatan

Senin, 20 Oktober 2025

Aku Gila

memahami manusia itu rumit, serumit memahami diriku sendiri, aku berada dalam dua sisi yang ku tak mengerti, pikiran trauma membunuh pikiran yang satu kepada pikiran yang lain, imajinasi tentang cinta ideal membuatku dalam dilema menerima diri menghentikan amukan jiwa yang tak terkendali, mungkin sudah gila sedari awal dan mungkin mereka benar tentangku, sejujurnya lelah berperan dalam imajinasi orang lain, ingin diri menikmati harapan yang tak pasti, semula aku selalu bersenang-senang dengan drama yg ku buat tanpa berharap mereka mengerti, siapa yang ada di tepi, siapa yang sedang menunggu di akhir, apakah dia tulus atau hanya bersenang-senang ingin memukulku berkali-kali, dengan tubuh yang rapuh sungguh ingin berhenti, tapi ide liar ini tak kunjung sembuh, layaknya manusia aku tak bisa menahan hasrat yang menggebu, entah itu unsur hewani atau unsur insani berlari-lari dalam pikiran yang melukiskan beribu rencana, siapa diriku sebenarnya, untuk apa di lahirkan, ku hanya ingin berganti peran dan berhenti membaca pikiran orang-orang, sungguh aku takut melukiskan betapa mengerikan diri ini bersembunyi dalam ruang psikopat yang ku bangun sendiri, kadang memahami diri sendiri seperti menepiskan impian orang lain yang lucu tanpa arti, aku ingin tidur sejenak agar kembali bermimpi kosong itu lagi

Sabtu, 04 Oktober 2025

Are You Ghost

kau hadir lagi di pelukan malam saat ku mencoba lagi melepaskan kenangan, kau datang merangkulku untuk tetap tinggal kesekian kali, dalam pelarian ku menolak imajinasi yang sudah tak rasional, tak mungkin terjadi, tak bisa diri berharap pada skema mimpi, aku bukan orang seperti itu, berkutat dalam khayalan yang tak punya kalkulasi, tuhan hukuman ini sudah membuatku bingung, banyak tebakan yang sudah tak masuk akal lagi, bukankah yang lain sangat mudah, berlalu dalam sampah kenangan yang tersimpan busuk dalam lubang keputusasaan, apakah diri ini yang palsu atau dia yang lagi menghitung keberanian, ah,omong kosong apa ini? bukankah manusia itu penakut? mengakui kebenaran dirinya, bukankah mereka hanya mementingkan diri mereka saja, dan jika mereka mau berkorban hanya untuk diri mereka sendiri, mereka tak memuja cinta tak pernah mereka mengerti apa itu cinta, mereka hanya tau jual beli, ah, mereka hanya omongkosong khan tuhan, taukah murni rasa tak ada yang bisa menyelaminya, tapi semakin ku menjauh, dia kembali berbisik, kitalah makhluk yang dipilihkan dan tak ada lagi yang bisa seperti kita, bahkan perasaan itu terpatahkan seakan menyuruh bersabar untuk pulang, dengan cara apa lagi aku berbohong, dengan pengalihan apa lagi aku cari, bisakah seperti kemarin, melepaskan tanpa beban meski memang amarah ku ciptakan untuk mereka melupa, tapi semakin dalam, semakin hilang, semakin kosong, apakah yang disiapkan di ujung cerita, kali ini aku terbungkam kenyataan, kali ini terbunuh perasaan, kewarasanku tak berfungsi dan drama yang ku ciptakan menghukumku begitu dalam untuk melupakanmu, meski ku buktikan kamu belum mampu, tapi kau buktikan untuk menghantuiku setiap waktu

Selasa, 23 September 2025

Bertahan atau berlalu

sepertinya aku tau duniamu, dia senyap, hening dalam gelap, aku melihat dunia itu bersuara dalam kepala merayakan imajinasi benda langit, bahagiamu bukanlah suara realita, bahagiamu adalah nyanyian camar yg terbang di lautan, bahagiamu adalah kuda poni yg berlari di padang sabana yg luas, kau tidak takut hujan malah kau sering mengintip jendela kamar memastikan hujan jgn henti dulu sampai lelap, kau tidak khawatir kalah, hanya khawatir kesendirian, kau memeluk luka dalam kata-kata dongeng putri tidur, kau memeluk cinta dalam mimpi orang asing yg tak punya rupa, demikian duniamu, yg dianggap aneh bagi mereka semestinya kau layak tersenyum, seharusnya duniamu dekat di sampingmu, andai kau dapat melihatnya, jika kau mampu merasakan tanpa membandingkan dengan presepsi, tak bisa kita bandingkan nilai dari rasa jika itu tak pernah terhingga, apakah kau pernah mendengarkan cerita serigala yg setia, dia tahu arah ke mana dia berpeluh, dia tahu ke mana asa yg ia tuju, dia tahu kata kuncinya seolah dia tak pernah berpikir hanya mengikuti bisikan jiwanya, mendengarkan suara bising belum bisa ditepiskan ke arah yang lain, masih ada bayang, masih ada hantu transparan menjelma dalam kilatan visual imaji,karena minumanmu belum habis,masih kehausan dalam gurun impian yang gersang, tanpa selesai, tanpa batas, tanpa tepi, tanpa balas atau ini hanya ragu, ini hanya rayu, yg dinikmati berkali-kali, sampai memang akan meregang nyawa, dan dihidupkan dengan bahan bakar belum tujuan

Bahasa Cinta

Cinta yang dicari selama ini bukanlah cinta yang dapat disadari bukanlah cinta yang dapat dilukis bukanlah cinta yang dapat ditulis Bahkan jika itu direncanakan tak akan pernah ditemukan Bahkan jika itu didesain Tak akan pernah dipuaskan Mungkin bisa terjadi berkali-kali ataupun dapat terjadi hanya sekali dan bisa saja tak pernah terjadi jika jiwa itu terbangun dari mimpi Dia dihadirkan di luar kendali tapi seolah kita bisa mengendalikan hati Dia diciptakan di luar pikiran tapi seolah kita bisa mengendalikan perasaan Membunuh cinta artinya bunuh diri membunuh cinta artinya melarikan diri membunuh cinta artinya membohongi diri membunuh cinta artinya sepi

Rabu, 27 Agustus 2025

Cemas

ku rengkuh asa dalam sunyi, mencoba mewujudkan ekspetasi dalam ridho ilahi, mendoakan sang ideal yang tak terrencanakan, memeluk usaha dalam kutipan catatan, takan selesai juga pikiran bersuara, ataupun bosan karena sudah di tujuan, belajar bukan hal yg membosankan, malah semakin menanam dendam pengetahuan, bagi mereka mengejar status adalah kehormatan, atau membanggakan hasil pencapaian adalah kebahagiaan, malah ku merasa sepi menjadi tenang, entah isi kepala selalu tegang dengan pertanyaan, terima kasih kasih sayang, aku paham rasa itu selalu memantau ku dalam gelap malam, terima kasih sang dermawan, yg memaafkan segala kesalahan yang telah di sengaja pujian membuat ku mabuk, cacian membuat ku tunduk, akulah hambamu selalu, memohon rahmat hari ini sampai tugas ini sudah selesai aku tinggal bersiap saja, dengan cara dan jalan yg semestinya, meski bisikin terus menyiksa, yang ku tahu hanyalah sujud dan doa kau sudah terlalu lama berlari, titip saja perasaan di pintu rumah, serahkan saja semua jangan kau tambah dengan kesenangan yg sementara dekaplah bantalmu dan berpesta dengan duka sampai kau bunuh diri dengan dosa, habiskan semua racun di hatimu, menyisakan madu ruh dalam jiwamu bijak dan pijak langkah baru, menuju pulau biru yang berdasar gelap, sampai kau tak melihat cahaya yang menawarkan kebohongan kelak dan pasti janji waktu, mengeleminasi senyuman pencundang yang tak mau terima ketulusan, apalagi mereka yang bersenang-senang dengan mulut rekayasa

Senin, 18 Agustus 2025

Belum di tiadakan

bukankah manusia selalu mengulangi kebodohan yang sama, membaca sejarah sekedar mengahapal untuk mengingat sebagai nilai pengetahuan tanpa menyadari semua akan mengulang, bukankah kita hanya mengulang hal yang sama, tanpa arah, tanpa tuju, mencari yang pada dasarnya sudah dilakukan mereka yang hancur dalam harapan yang semu, kata mereka memiliki materi memungkinkan kita hidup bahagia, apakah kau peka dengan apa yang ku lihat kemunafikan mereka atau kau berusaha waras dalam dunia yang sudah tak waras, bacalah kebutuhanmu bukan ambisi orang lain yang kau pikul untuk terus menyiksa dirimu atau kau bahagia dibohongi kerakusan dunia, baca sekali novelmu apa yang dicari mereka, harta kah atau cinta, coba tanya sekali lagi apa itu cinta, seberapa penting itu cinta dan bagaimana cara mencinta, beberapa alasan yang kita bangun hanyalah bangunan ego tanpa asal, tanpa ilmu, tanpa pengetahuan, bahkan tak berdasar, masa lalu katanya akan lupa, padahal sejarah tak akan hilang, menjadi jejak-jejak petunjuk terus bertemu lagi dalam wajah masa depan, pantaskan dirimu menyambut bahagiamu, pantaskan jiwamu mengundang takdir yg di janjikan, ia pantaskan diri untuk menjawab bagaimana jika, bagaimana tidak, bagaimana belum, bagaimana pulang, pencapaian bagi mereka yang punya ambisi, pengharapan bagi mereka yang punya fantasi, penyesalan bagi mereka yang tak pernah mencoba, jurang perbedaan yang membentang sanggup kita tentang, kontradiksi presepsi sanggup kita tentang, lalu mengapa menyerah jika itu bukan dirimu yang tak pantas menyerah, kecuali terpuaskan dengan malam-malam tanpa pagi, menatap jendela-jendela janji, menatap pintu-pintu terkunci ketakutan, bukankah kau pernah menerjang mimpi, memukul sunyi, lari dari penjara kesendirian, masih ada dunia tanpa tepi yang bisa di usahakan, masih ada hari yang tak pernah membosankan, menyiapkan perayaan menantang boneka komedi kepada mereka yang lucu sibuk memikul harapan duniawi yang nnti juga di tinggal mati,

Minggu, 03 Agustus 2025

Makna Hidup

Perlahan cinta memaknai dirinya, kata orang lupakan saja tapi aku sungguh rindu rasa yang terpendam itu, tak punya alasan untuk melawan titipan perasaan yang terlanjur tulus terungkapkan, kisah yang menemukanku, terangkai dinamis dalam alur yang sulit dimengerti, adapun vonis dilayangkan menjadi presepsi, itulah pemikiran mereka yang perlahan tergerus dunia yang berarah pada kepalsuan, setelah kembali jalan keabadian, terpahami bahwa usaha melarikan diri bukan rencana yang baik untuk pulang, langkah yang kemarin tergerus bisikan sinis, bukanlah luka yang menjadi dendam, aku mengerti banyak lubang hitam yang aku buat dari keputusasan menerima kenyataan, sambil merenung dan berpikir diri jauh dari jalan yang semestinya, berharap pada hal yang sungguh tak kekal, menunggu pada hal yang berubah-ubah, mudah tergerus isu, mudah termakan rayap penistaan, kekecewaan yang ku bawa bukanlah suatu penyesalan, yang ku artikan jalan menuju rumah, terjal mendaki, rapuh tersedimentasi ambisi, bukan sosok, tapi penyajian rasa yang sejati, terabadikan dalam kesadaran ketidakmampuan logika mengatasi perasaan yang tanpa tuan, mengahadapi definisi sifat-sifat milik-Nya, sesungghnya pemilik rasa lebih tahu segalanya, mengulang pada saat kisah itu bercerita, sungguh tak bisa dikatakan itu rencana, hari-hari yang hitam mencari kepastian saat kehilangan arah, hobi menjadi pelipur lara sementara, niatkan untuk mengobati luka hati yang menciderai mimpi-mimpi yang seketika hilang, ketenangan jiwa untuk memulai hari yang baru, mencari ujungnya cita-cita di pojok senja, kau masih di bangku belakang seperti biasanya, tertidur pulas entah ngantuk atau sedang bersedih kala itu, duniamu sungguh tak ku pahami, hanya kurasakan sepi itu di atas meja yang basah oleh cacian, terus ku nikmati hari-hari ketidakpastian, arah yang patah ku rangkai dalam obrolan asing tanpa kesimpulan, yang ku tahu aku datang sedikit menegur keheningan dan kembali ke dunia hampa ku lagi, ketahuilah bertahun dalam malam dan derasnya hujan, aku hanya pecundang yang tak bisa menjadi diri sendiri, aku hanya sebongkah mayat yang hanya bisa berpikir tanpa jiwa, sekosong itu hidupku, sehening itu hidupku, berpindah pada pohon-pohon layu, namun di saat bermekaran di saat itulah aku harus pergi, itu tugas satu-satunya yang aku pahami selama ini, jika diperlukan aku ada, jika tidak dibutuhkan lagi aku siap pergi, meski merindukan tanam bunga, dan kini giliran saat ku akan kembali, menambal lubang-lubang luka, ku temui suara untuk hijrah, satu persatu ku perbaiki, menjalani mimpi untuk hari kepulangan, tak peduli lagi dengan dunia yang bising

Rabu, 23 Juli 2025

I Love U D'One

tik tik tik bunyi hujan di tepi ratapan, kehangatan bumi jadi dingin tak bersuara, terselimuti masa lalu yang tak kunjung bermuara, terbaring tak dapat bangun lagi, bunga mimpi ruang pengobat rindu sementara, terus apa yg terdzalimi, ketika raga tak terus melangkah, tapi hati belum beranjak, untuk apa menyalahkan suasana, ini anugerah bukan ketamakan jiwa menggerus egois untuk berkuasa, biar saja tak tersembuhkan, biar saja terus lara, butuh khayalan untuk tetap bertahan, meski tanya tak akan terjawab, apa gunanya esok tercipta jika cita tak terencana, apa gunanya berpeluh membunuh hasrat, jika air mampu mengalir walau terbendung, perlahan dunia tetap berputar, walaupun tak siap menanti nestapa baru atau bahagia yg imitasi,ketahuilah rumah ini tetap ku siapkan mengobati rasa sepi, tempat yg sama dimana bahagia bukan sekedar drama, walaupun kau berkata tak mau pulang, mencoba bertahan hidup dalam dunia yg fana, dimana mereka saling membunuh tanpa mengerti makna cinta, pertempuran hati ini adalah realita luka yg ku ciptakan sendiri, membenci dunia yg tak lagi sehat dalam merasa, di pelukmu aku temukan kenyamanan yg telah terpendam lama, ketahuilah kebodohanku yg membuat kita terluka, keegoisanku yg membuat kita hancur, seharusnya aku tetap merencankan perlahan agar rumah kita tercipta, aku akan tetap mengabarimu meskipun hadirku tak berarti, biar ku peluk bayangmu, sepantasnya bagi ku yg tak peka hadirmu, sepantasnya aku harus tersiksa lara dan airmatamu, sepantasnya aku bayar semua skema yg telah perbuat, kita tetap satu dan tak ada yg pantas menggantikan pelukan kita, tak ada yg pantas memiliki kisah kita, ku akan bertahan meski serasa kosong, aku pantas gila dan ditertawakan, aku pantas berjalan dalam ruang tanpa tuju, aku jatuh cinta padamu kemarin, esok dan selamanya.

Rabu, 09 Juli 2025

Keterangan Kebohongan

aku suka kalah karena ku tahu nikmatnya kekalahan aku suka di benci karena ku tahu asiknya dibenci aku suka di tinggal pergi karena ku tahu merayakan perpisahan aku suka sendiri karena ku suka sunyi beberapa orang bertarung dalam mimpi semu beberapa orang berperang dengan takdir palsu beberapa orang berjuang merdeka yg rapuh beberapa orang, ia itu juga kamu untuk menemukan cahaya, butuh gelap untuk menemukan bahagia, butuh tangis untuk menemukan rindu, butuh benci untuk menemukan cinta, butuh fitnah apakah kau tau siapa yg berbisik di telingamu? apakah kau belajar suara hati siapa yg kau ikuti? apakah tidak cukup permainan yg dapat kau lihat? jika ukuranmu mayoritas, berarti kamu hanya takut, jika pikirmu hanya harga, berarti kamu hanya hidup untuk mereka jika rasamu ada d otak, berarti kamu hanya pura-pura jika itu yg dapat dilihat, diraba, dipakai, berarti itu terbatas iya cukup menunggu' semoga kita bertemu di dunia lain yg tak saling menyapa aku tetap tersenyum, tapi kita tak sempat menolong karena terlampau bernilai keterasingan dalam keramaian dunia atau kita tak dapat bertemu lagi

Kamis, 19 Juni 2025

Hilang

sunyi, sudah tidak berisik lagi, mainan barumu sudah lebih menarik, hari ini masih ku cari mimpi itu, walau saat ini aku berjuang sendiri, hey bahagialah dengan hidupmu, aku selalu tersenyum mengingat, maaf beban itu terlalu berat, lalu ku belajar bahwa menumpuk benci, sedih, dendam, marah, menambah beban hati, buang saja semua rasa itu, tak buat aku waras juga, pelan ku berjalan perbaiki tangga demi tangga, mungkin kepingan tangga ku terlalu tinggi, ku pangkas sebentar menemukan puncak di atas awan, agar aku tidak sombong lagi, sendiri lagi terbiasa tertawa, terbiasa bermimpi yang beda, aku cemburu jika kau tak bahagia nanti, tapi aku tersenyum jika kau kembali bahagia, percayalah di antara doa dan harapan ada dirimu, tapi bukan sebagai tujuan melainkan rasa syukur yang paling tinggi, bagaiamana membencimu jika hikmah luka mu sangat mendalam, kembali belajar bahwa memilih jalan cahaya menjadi lebih baik walau terasing, semakin terasing, semakin tenang hidup ini,jadi bukan senang aja syukur itu, tapi bersyukur dengan cara bersedih adalah level selanjutnya, bagaimana aku lupa bertahun-tahun aku bersenang-senang dengan luka lalu mengapa harus membenci jika nilai rasa itu tidak ada, yang ku tahu aku di coba dan semena-mena dengan cobaan, maka hanya belajar memaknai lagi dan baca lagi, aku pulang dulu dalam sunyi menunggu syair baru yang akan ku tulis lagi selanjutnya

Senin, 26 Mei 2025

Mengenangmu

selamat berbahagia, untuk yg bisa berpura-pura, selamat berbahagia, untuk yg bisa mengkhianati hati, selamat berbahagia, untuk yg bisa lari dari kenyataan, selamat berbahagia, untuk yg sedang bermandi materi, selamat berbahagia, untuk yg sedang mengejar mimpi yg fana, senang sekali mengenang waktu, senang sekali mengenang memori, senang sekali menjadi halte perhentian, senang sekali menjadi parkiran harapan,senang sekali menjadi wadah kebencian, senang sekali menjadi bekas luka, ketahuilah sulit sekali seperti mereka, sulit sekali menjadi orang asing, sulit sekali lepas trauma, sulit sekali bertopeng palsu, semoga bertemu gerbang harapanmu, semoga bersua imajinasi mimpimu, semoga bersatu dgn lagumu, semoga pulang ke rumah nyamanmu biarkan gelap dan cacian memberi energi, biarkan benci dan dusta memberi ambisi, biarkan sakit dan koma memberi amarah, biarkan semua sesal tertinggal di sisi kamarku senyum ini melepas semua bungkam, tawa ini melepas semua lara, doa akan selalu jadi hadiah malam, dengan asa terbaik menyambutmu kelak menjadi persinggahan untuk obat hatimu

Kamis, 15 Mei 2025

Semua Ingin Bahagia

beberapa alur kisah terlewat, memberi beberapa ingatan yg belum juga berlabuh, ku kira telah berhenti di labuhan pada waktu itu, pelabuhan itu kini telah melepas semua kenangan yang tersisa, keberangkatan kedua kali berlayar dalam alunan gelombang yang masih mengguncang keyakinan hati, ku temui kisah yang mengembalikan masa lalu tapi hanya sebagai cerita pengingat, kegagalan akan melepaskan seorang ideal yang pernah menjadi jangkar yg tak sempurna, ku pahami beberapa hal kedewasaan memahami arti beberapa kekurangan diri, menarik kembali untuk belajar bagaimana cara untuk bahagia, terima kasih atas pelajaran yang selama ini kalian titipkan, kini ku tahu caranya bahagia, cara mencintai seperti si pemilik cinta, aku masih percaya imajinasi yang ku bangun sendiri, yang ku titipkan di ujung senja dalam harap dan doa pada pemilik harap, perlahan ku bangun hati yang utuh, ku jaga dari noda dunia agar bisa pulang seperti datangnya, bagaimana bisa menyandarkan manusia yang tak tau cara mencinta, bertahun telah ku lihat kegagalan cinta yang mereka buat di rumah, sudah cukup pelajaran kegagalan atas kepalsuan yang mereka buat, bersyukur atas kewarasan yang terjaga, bersyukur atas kepulangan kali ini membuat semakin siap menyambut bahagia sejati, tak peduli takdir ini sperti apa, ku yakini tuhan punya cara sendiri jika kita mau memahami petunjuknya dan mau belajar memahami maksud Tuhan, tak perlu memaksa perlu ikhlas dan sederhana, amanat yang dititipkan sementara ku jaga sambil membangun mimpi yang ku titip, di akhir pengaharapan hari ini dan nanti esok adalah sandaran penuh atas kesadaran penghambaan, aku bisa bahagia karena ku percaya, aku bisa bahagia tak perlu pura-pura, aku bisa bahagia bukan karena dunia, aku bisa bahagia untuk menikmati bersama atau nanti hanya sendiri di penghujung waktu tak masalah sudah ku jual bahagia pada pemilik bahagia, harap yang bermain di kepala adalah semoga kalian bisa bahagia, terlalu jauh pikiranku membuang rasa yang terlalu mudah ku baca dalam hati kalian, maafkan aku tak bisa terlalu memaksa karena definisi kita berbeda kecuali kau ingin kembali memeluk bahagia yang sama

Jumat, 09 Mei 2025

Bangku Kosong

hai bangku kosong, tolong ceritakan rahasiamu, terlihat betapa rapuh dirimu sekarang, menanggung beban drama dalam sunyi,percayalah diriku tidak berubah,masih sama tapi dalam versi sedikit lebih baik,malam ini ku bermimpi lagi,kau mengeluh atas kelakuan tuanmu,semakin menambah ketakutan pada hatimu,tidur juga tidak cukup untuk bertahan,hei bangku kosong aku masih di sini,menanyakan kabarmu,mengintip keadaanmu,memikirkan masa depanmu,hingga nanti menemukan rumahmu,bagi beberapa pikiran menganggap aku bodoh,beberapa opini menganggap aku hanya berfantasi, tp inilah kenyataan cinta,tidak terukur,tidak ternilai,tidak pula dinamis,aku selalu merayakan hari-hari masa lalu,ketika selalu menemuimu di sela sibukku,ketahuilah api yg ada pada waktu itu telah padam,kamu datang dan menyalakan api itu lagi,meski nyalanya hanya semalam,aku terbakar dalam imajinasi yg tak kunjung selesai,hai bangku kosong,aku rindu dalam angan,aku rindu dalam bernyanyi,jika boleh,nanti kita bertemu lagi yach,di kesempatan yang berbeda,tapi dalam rupa yg sama,saat ini ku sedang belajar mencintai si pemilik cinta, ku serahkan semua rasa pada sang pemilik rasa yg sama,ku titipkan pesan kematian untuk di berikan bidadari serupa kelak,hai bangku kosong aku mencintaimu,tapi apakah cintaku itu buta,tidak juga kalau aku bisa kembali mendekap taat di dalamnya,terima kasih yang tak pernah cukup teruntuk bangku kosong,dari si monster di pinggiran jalan,selamat jalan

Sabtu, 19 April 2025

kisah selanjutnya

 menerka pesan tuhan yg terselip dalam tanda-tanda rasa yg mungkin dikalkulasi menjadi nyata, dalam kamar yg kosong memikirkan hal imaji dalam impian dongeng sebelum tidur, sedikit pulih dari peluh yg datang berkepanjangan, akankah rumah fiktif yg ku cipta menjadi nyata, sedangkan aku tak percaya lagi janji, aku suka berlari sendirian d tengah kota, ramai tapi seakan kosong, mencoba mengeluarkan luka dan duri-duri kenangan dalam kepala, aku telah membakar cita-cita saat amarah dari kecewa merasuki hati, dan sudah tidak banyak pilihan, tidak cukup lagi waktu, tidak ada lagi tenaga yg tersisa, akankah tangan idaman menyambut dengan tulus, mengenali ku meskipun terselip dalam keramaian kota, tak banyak yang ku ingin sebenarnya hanya seorang ideal yg tak berpura-pura, kata tuhan, datang padanya nnti dia membereskan segalanya, hanya tuhan yg ku pegang janji sekarang walau perasaan selalu turun dan naik, sebelum pulang aku selalu ingin bertemu rusukku, ingin menikmati setiap bahagia berkah cinta manusia walau tidak abadi, yg sesungguhnya bagiku cinta tuhan lebih besar, dan jika diberi kesempatan setalah mati, memilih dia sebagai ratu bukan hany sekedar bidadari, sketsa cerita ini belum padam sampai temui panggilan pulang, apa yg terjadi nanti biarlah semua itu datang, entah itu luka, entah itu suka, entah itu tangis, entah itu tawa, aku siap apapun itu, ketika bel perperangan sudah pukul sang ideal akan ku sambut dengan meriah, akan ku nyalakan api yg hampir padam, akan ku jual seisi duniaku hingga tak lagi bersisa,

Selasa, 01 April 2025

bekas perang

tangis pun tak pernah cukup, bahkan jiwa sudah serasa kosong, masih bermimpi tentangmu, merasakan cintamu yang belum hilang, masih ingin kembali, masih ingin bersama, bahkan tak mungkin punah, rumah yg tertinggal serasa kosong, bagaimana cara untuk merindukanmu, tanpa menyisakan rasa sakit, bagaimana cara untuk tenang, dengan menikmati kenanganmu, kau datang padaku pada malam itu, senyuman yg kau berikan seperti waktu itu, sungguh tak ad amarah, kau bahagia seperti di pelukanku, entah walau tak mungkin, tapi hati ini masih berhantu, coba mengingat apa yang semula, padahal kita tidak ingin memulai, terus mengapa ini serasa melekat jika waktu kita cuman sebentar, apakah ada harapan sebelumnya, atau kita coba bermain dengan bahaya, sungguh tidak jelas arah yang kita tuju, tapi serasa begitu dalam ikatan yang nyata, apakah kamu merasakan yang sama, atau imajinasiku yang perlahan membunuhku, upaya pelarian dan pencarian semakin berat semenjak kamu masuk dalam cerita, aku ingin kamu sembuh walau semakin berat luka, tapi tidak cukup untuk berdoa, aku ingin jadi kendaraanmu juga, apa kamu selama ini merencanakan juga atau memang diriku hanya berkias, aku cukup puas memliki ingatan, yang aku takut kenangan ini digantikan, ego membungkam tapi entahlah setengah gila aku berjalan mencari jalan pulang